Bioskop Pasific Diawali Film Bisu
Pengusaha bioskop daerah, H Didi Kusnadi yang mengelola bioskop Pacific sejak 1977 mengembalikan lagi bioskop itu ke Pemprov Jabar.
Penulis: Deddi Rustandi | Editor: Darajat Arianto
Pengusaha bioskop daerah, H Didi Kusnadi yang mengelola bioskop Pacific sejak 1977 mengembalikan lagi bioskop itu ke Pemprov Jabar. Tak ada lagi pemutaran film di bioskop yang biasa memutar film India ini, namun akhir 1990-an sempat diputar film tapi tak berlangsung lama karena sepi penonton.
Bekas bioskop ini sempat disewa pengusaha ritel dan dijadikan toko buku serta pakaian tapi tidak berkembang.
Bioskop Pacifik didirikan tahun 1928 dan diresmikan Bupati Sumedang Dalem Soeria Soemantri. Pendiri bioskop ini adalah Meneer Boesee, seorang saudagar Belanda yang mendirikan sejumlah gedung bioskop di Tatar Pasundan.
Menginjak tahun 1942, ketika Jepang datang dan menjajah, bioskop itu menjadi tempat pertunjukan kesenian tradisional seperti wayang golek, sandiwara, ketuk tilu dan sebagainya.
Setelah merdeka, gedung ini difungsikan lagi sebagai sarana pertunjukan film oleh pemerintah RI. Dulu di sini diputar film bisu dan pada awal pertunjukan biasanya diiringi dengan musik tradisional dogdog.
Pada masa penjajahan Jepang, gedung Bioskop Pacifik sebutannya diganti menjadi Gedung Sakura. Setelah merdeka diberi nama Bioskop Tjahaja, kemudian berubaha lagi menjadi Bioskop Kutamaya, dan pada tahun 1977 setelah dikelola oleh pengusaha lokal, H Didi Kusnadi, nama gedung ini dikembalikan ke asalnya Bioskop Pacific.
Namun menyusul bangkrutnya perbioskopan akhir tahun 1990-an. Bioskop Pacifik tak lagi memutar film. Kemudian awal tahun 2000-an, bekas bioskop Pacifik disewa jaringan ritel Duta Pasar Raya. Bangunan ini dirombak dijadikan toko pakaian dan buku.
Gerbang besi dibongkar, begitu juga loket tempat penjualaan karcis dibongkar, termasuk lantai ruang menurun dijadikan datar. Menyusul berakhirnya perjanjian kerja sama pada pertengahan tahun 2011, bangunan gedung bekas bioskop Pacifik dibongkar lagi. Bioskop Pacific menjadi heritage yang tersisa di Sumedang setelah Gedung Negara. (*)
berita selengkapnya bisa dibaca di Tribun Jabar edisi cetak, Sabtu (25/2)