Gagasan Dedi Mulyadi Usulkan Pembangunan Underpass Jalan Pasteur ke Pemkot Bandung Solusi Kemacetan
Baru-baru ini gagasan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi soal pembangunan Underpass Jalan Pasteur sebagai solusi kemacetan jadi sorotan.
Penulis: Hilda Rubiah | Editor: Hilda Rubiah
Ringkasan Berita:
- Solusi Kemacetan: Dedi Mulyadi mengusulkan pembangunan Underpass di Jalan Pasteur untuk menghapus titik pertemuan arus lalu lintas.
- Intervensi Provinsi: Gubernur menekankan pentingnya intervensi Pemerintah Provinsi terhadap pembangunan di tingkat Kabupaten/Kota untuk mempercepat konektivitas pembangunan infrastruktur jalan.
- Tahap Kajian: Gagasan underpass ini saat ini masih dalam tahap kajian teknis untuk memastikan kelayakan tata kota dan infrastruktur.
TRIBUNJABAR.ID - Baru-baru ini gagasan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi soal pembangunan kembali jadi sorotan.
Kali ini, Dedi Mulyadi mengusulkan pembangunan underpass Jalan Pasteur, Kota Bandung.
Adapun gagasan usulan tersebut disampaikan Dedi Mulyadi pada acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Anggaran Tahun 2027 bersama para pemangku kepentingan (stakeholders), beberapa waktu lalu.
Dalam pidatonya Dedi Mulyadi membeberkan sejumlah gagasan dan rencana pembangunan di Jawa Barat selama dirinya menjabat.
Mulai dari kebijakan fiskal, inovasi daerah, pendidikan, ketenagakerjaan, pemerataan infrastruktur hingga konektivitas.
Untuk bisa menjalankan rencana pembangunan tersebut, Dedi Mulyadi mengakui dibutuhkan koordinasi atau kerja sama dengan jajarannya termasuk para pemerintah daerah atau wilayah.
Baca juga: Soal Penataan Gedung Sate, Dedi Mulyadi Sebut Hanya Menyasar Halaman Tanpa Sentuh Bangunan Heritage
Dalam hal ini, menurut Dedi Mulyadi demi melancarkan seluruh rencana tersebut juga dibutuhkan intervensi.
Dalam hal ini, ia pun mencontohkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar mengintervensi PT Perkebunan Nusantara (PTPN).
Hal ini dilakukannya demi menyelamatkan lingkungan hidup termasuk kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, Dedi Mulyadi mengatakan dirinya juga mengintervensi pembangunan jalan nasional termasuk kabupaten dan kota.
Gubernur Jabar itu mengatakan tahun ini pihaknya juga mengintervensi Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung pembangunan jalan di Pasteur.
“Tahun ini kita di Kota Bandung, mungkin mulai satu bulan lagi mulai pengerjaan, (pembangunan) Jalan Pasteur kita intervensi,” ujar Dedi Mulyadi, dikutip Tribunjabar.id dalam tayangan Youtube Lembur Pakuan, Senin (20/4/2026).
Dedi Mulyadi mengatakan alasan dirinya mengintervensi pembangunan tersebut karena Jalan Pasteur termasuk wajah Pemprov Jabar.
Menurut Dedi, selama ini kemacetan yang terjadi di Jalan Pasteur setiap akhir pekan sudah menjadi rahasia umum bagi warga Kota Bandung.
Ia pun menganalisa bahwa masalah kemacetan di Jalan Pasteur terjadi karena adanya perempatan dan traffic light di depan gerbang tol.
Demikian, Dedi Mulyadi mengatakan salah satu solusi kemacetan tersebut dengan pembangunan Underpass.
“Ya sudah bikin Underpass, mobil yang dari sana (utara) ke bawah saja sehingga nanti tidak usah lagi menghadapi traffic light,” ujarnya.
Underpass adalah infrastruktur jalan berupa terowongan pendek atau jalur yang dibangun di bawah permukaan tanah/jalan lain (persilangan tidak sebidang).
Dedi mengatakan pihaknya sudah setahun memberikan usulan tersebut agar Bappeda berkoordinasi dengan Pemkot Bandung terkait rencana pembangunan underpass Jalan Pasteur tersebut.
Menurutnya underpass Jalan Pasteur bisa dibangun di Jalan Dr Djunjunan atau di depan Gerbang Tol Pasteur yang selama ini terdapat traffic light.
Dedi Mulyadi mengkritisi bahwa selama ini traffic light di Kota Bandung juga bermasalah tidak beraturan karena manual.
Menurutnya tidak semua daerah memiliki traffic light. Justru sebaliknya adanya traffic light terkadang bisa membuat kemacetan.
Ia prihatin karena masalah traffic light terjadi di pusat kota. Oleh karena itu ia menyarankan agar Pemkot Bandung melakukan konektivitas.
Baca juga: Respons Dedi Mulyadi Soal Anggaran Tenaga Kerja Kebersihan Masjid Raya Al Jabbar Rp22 Miliar
Kendala Anggaran
Terkait masalah anggaran, Dedi Mulyadi memberikan kebijakan agar setiap pemerintah daerah wajib menganggarkan 7,5 persen belanja daerah untuk pembangunan infrastruktur.
“Maka ketaatan Bupati, Wali Kota menganggarkan 7,5 persen anggaran belanja daerahnya untuk kepentingan infrastruktur jalan adalah sebuah keharusan,” tegasnya.
Dedi bahkan berencana mencermati rancangan APBD 2027 dari setiap Kabupaten/Kota agar penyelarasan ini terwujud.
Menurutnya jika kemantapan jalan di sebuah daerah sudah baik, maka angka tersebut kemudian akan dialokasikan untuk pembenahan trotoar, halte, taman hingga drainase Kabupaten/Kota.
“Nah itu terkoneksikan, kalau nggak 7,5 persen maka saya tidak akan menandatangani rekomendasi RAPBD,” katanya.
Dedi meyakini bahwa kebijakan ini dapat mewujudkan konektivitas yang solid hingga tingkat desa, sehingga masyarakat di pedesaan tidak mengeluhkan lagi kualitas jalan desa yang buruk.
Baca juga: Dedi Mulyadi Kritik Sistem Pendidikan, Ingin Ubah Kurikulum Sekolah Jadi Produk Praktis
Masih Dalam Tahap Kajian
Meski begitu, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa gagasan dan rencana pembangunan underpass Jalan Pasteur tersebut masih dalam tahap kajian alias belum final.
"Ini kan dalam kajian, saya berkeinginan itu buat. Keluar Pasteur, Sabtu-Minggu selalu menimbulkan antrean panjang. Maka harus dicarikan solusi, salah satunya ada underpass," ujar Dedi Mulyadi dikutip dari Kompas.com.
Kajian dilakukan untuk memastikan kelayakan dari sisi tata kota maupun aspek infrastruktur sebelum proyek bisa direalisasikan.
“Dari sisi kajian tata kotanya, dari aspek infrastrukturnya, mudah-mudahan bisa terpenuhi syaratnya. Kalau memungkinkan, tahun depan mulai dibangun,” katanya.
Apabila seluruh persyaratan telah terpenuhi, kata dia, pemerintah akan segera menyusun Detail Engineering Design (DED) sebagai dasar pelaksanaan pembangunan.
“Kalau sudah terpenuhi, di perubahan anggaran bisa dibuatkan DED-nya, tahun depan bisa dibangun,” ucapnya.
Terkait anggaran, Dedi mengaku belum dapat memastikan besaran biaya karena proses kajian masih berlangsung.
Sebelumnya, berdasarkan data TomTom Traffic Index, pada 2025 Kota Bandung tercatat sebagai kota termacet di Indonesia dengan waktu tempuh rata-rata 32 menit 27 detik untuk jarak 10 kilometer.
Dalam laporan yang sama, Bandung juga menempati peringkat ke-16 kota termacet di dunia, meski secara global posisinya mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Dedi berharap, pembangunan infrastruktur seperti underpass dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi kepadatan lalu lintas sekaligus meningkatkan kenyamanan mobilitas warga dan wisatawan di Kota Bandung.
(Tribunjabar.id/Hilda Rubiah/Nazmi Abdurrahman)
| Libur Panjang Waisak, Braga Tetap Jadi Pilihan Wisatawan untuk Nikmati Kota Bandung |
|
|---|
| Seuri Perkenalkan Konsep Restoran Sunda Modern di Kota Bandung yang Ramah Disabilitas |
|
|---|
| Lanjutkan Instruksi Dedi Mulyadi, DLH Segera Angkut Ribuan Ton Sampah dari 4 TPS di Kota Bandung |
|
|---|
| Reaktivasi Bandara Husein Mudahkan Turis Malaysia dan Singapura Berwisata Belanja di Bandung |
|
|---|
| Imbas Pelemahan Rupiah, Perajin Tahu Tempe Jabar Terancam Gulung Tikar Akibat Biaya Impor Kedelai |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/jalan-pasteur-macet-392021.jpg)