Selasa, 28 April 2026

DPRD Jabar Bakal Panggil BKSDA Buntut Kematian Dua Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo

Ono pun akan memanggil BKSDA untuk meminta penjelasan dan memastikan tanggung jawab pengawasan satwa yang telah dijalankan.

Tribun Jabar/Nazmi Abdurrahman
WAWANCARA - Wakil Ketua DPRD Jabar, Ono Surono saat berkunjung ke Bandung Zoo, Jumat (27/3/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Wakil Ketua DPRD Jabar, Ono Surono, akan memanggil BKSDA Jabar terkait kematian dua anak harimau benggala di Bandung Zoo akibat virus FPV.
  • Ono menilai koordinasi antara BKSDA dan pihak kebun binatang tidak berjalan baik, meski pengelolaan sementara sudah diambil alih Kementerian Kehutanan.
  • Ia menekankan pentingnya perbaikan pengawasan dan pemenuhan kebutuhan satwa agar kejadian serupa tidak terulang.
  • Sebelumnya, Ono sempat mengusulkan pemindahan satwa ke Kebun Binatang Ragunan atau Surabaya.

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurrahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Wakil Ketua DPRD Jabar, Ono Surono bakal memanggil Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar, buntut dari kematian dua anak harimau benggala, di Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo

Hal itu disampaikan Ono Surono setelah dirinya datang ke Bandung Zoo untuk meminta penjelasan kepada petugas tentang kondisi Bandung Zoo yang tidak beroperasi sejak beberapa bulan lalu akibat sengketa kepengurusan.

Pada kesempatan itu, Ono mendapatkan penjelasan dari petugas tentang kondisi Bandung Zoo pascaizin operasionalnya dicabut dan pengelolaan sementara ditanggung oleh Kementerian Kehutanan.  

Baca juga: Cerita Keeper Huru-Hara Anak Harimau yang Mati di Bandung Zoo, Tak Ada Tanda-tanda Sakit

"Ternyata menurut karyawan, BKSDA ada setiap hari, tapi tidak berfungsi. Koordinasi juga sulit, termasuk untuk langkah teknis," ujar Ono, di Bandung Zoo, Jumat (27/3/2026).

Ono pun akan memanggil BKSDA untuk meminta penjelasan dan memastikan tanggung jawab pengawasan satwa yang telah dijalankan.

Kematian dua anak harimau Benggala akibat terinfeksi virus Feline Panleukopenia (FPV) ini, kata dia, harus menjadi perhatian serius dan perlu ada perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang.

"Jadi, dengan diambil alih pengelolaan oleh Kementerian ini tidak membuat jauh lebih baik, sehingga ini harus menjadi perhatian, untuk bagaimana memastikan kebutuhan hewannya diberikan dengan baik," katanya.

Pada Agustus 2025, Ono mengaku sempat datang ke Bandung Zoo dan menawarkan agar hewan-hewannya sementara dipindahkan ke Kebun Binatang Ragunan Jakarta atau Surabaya.

"Sempat ada komunikasi antara Gubernur DKI dengan Wali Kota Bandung dan Wali Kota Surabaya, tapi tidak ada tindak lanjut," katanya. 

Sehingga, saat ini fokusnya adalah bagaimana pakan untuk hewannya bisa tersedia dengan baik. Sebab, untuk pemindahan hewan prosesnya akan panjang karena ada beberapa hewan milik pemerintah dan yayasan. 

Baca juga: Fakta-fakta Kematian Harimau Huru dan Hara di Bandung Zoo, Terinfeksi Virus Sejak Lahir

"Nanti akan kita bicarakan dengan Kementrian, apakah akan dipindahkan atau tidak, karena ada hewan langka dilindungi milik pemerintah dan milik yayasan yang saat ini masih berproses, sehingga paling penting adalah pemenuhan kebutuhan hewannya," ucapnya.

Selain itu, DPRD Jabar juga menilai Pemerintah Provinsi Jawa Barat belum banyak terlibat. Padahal, Dinas Kehutanan provinsi punya tugas di bidang konservasi.

"Selama ini saya lihat belum ada campur tangan dari Pemprov Jabar terhadap Bandung Zoo. Ini yang akan kami tegaskan," katanya. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved