Senin, 18 Mei 2026

Wapres Meninjau Ekstrakulikuler E-Sport dan IoT di SMP Santo Yusup Bandung

Wali Kota Muhammad Farhan menyebut karya siswa seperti sistem sensorik berpotensi menjadi konsep smart city Kota Bandung.

Tayang:
Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Wapres Gibran saat meninggalkan SMP Santo Yusup Bandung, Rabu (4/3/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Wapres Gibran meninjau pendidikan IoT dan e-Sport di SMP Santo Yusup Bandung. 
  • Wali Kota Muhammad Farhan menyebut karya siswa seperti sistem sensorik berpotensi menjadi konsep smart city Kota Bandung
  • Meski masih berupa prototipe, kurikulum ini disiapkan agar siswa kelas 7 hingga 9 siap bersaing di industri teknologi masa depan yang semakin kompetitif.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melakukan kunjungan kerja ke SMP Santo Yusup di Jalan Sukalaksana Baru, Kelurahan Cicaheum, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, Rabu (4/3/2026).

Tujuan Gibran datang ke SMP Santo Yusup itu untuk melihat secara langsung kegiatan ekstrakurikuler e-Sport dan pendidikan IoT (Internet of Things) yang diterapkan dari kelas 7 hingga 9.

Pantauan Tribun Jabar, Gibran yang terlihat memakai kemeja biru muda datang sekitar pukul 09.00 WIB. Ia disambut oleh Wakil Gubernur Erwan Setiawan dan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.

Setelah itu, Gibran terlihat memasuki sejumlah ruangan di SMP tersebut untuk berbincang dengan siswa yang sedang belajar. Namun, awak media tidak diperkenankan meliput dan hanya bisa menunggu di luar.

"Saya di depan Pak Wapres menyampaikan beberapa hal mengenai IoT atau Internet of Things. Ide-ide anak-anak ini, apabila sudah matang, bisa kami 'panen' sebagai konsep untuk membangun smart city di Kota Bandung," ujar Farhan di SMP Santo Yusup, Rabu (4/3/2026).

Sekitar 30 menit berada di sekolah tersebut, Gibran kemudian meninggalkan SMP Santo Yusup untuk melakukan kegiatan lain di Kabupaten Bandung guna menyambangi sekolah serta pesantren.

Sementara itu, guru teknik informatika SMP Santo Yusup, Didit Wahyu Triono, mengatakan bahwa pendidikan IoT itu baru diberlakukan dua tahun terakhir karena pelajar akan bersaing di industri yang sudah memanfaatkan teknologi dalam berbagai hal.

Oleh karena itu, siswa yang masuk ke sekolah ini sejak kelas 7 akan mendapatkan ilmu mengenai IoT, yang mana awalnya mereka harus membuat gim yang mudah dimainkan.

"Nah, kalau naik ke kelas 8, mereka masih membuat gim, tetapi yang mulai bercabang dan tidak terlalu mudah pengaplikasiannya," kata Didit.

Kemudian saat menginjak kelas 9, siswa tersebut dibuat berkelompok untuk membuat inovasi yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari. Tahun lalu ada sekitar 50 inovasi dari siswa yang membuat grup berisi dua orang.

"Sekarang ada sekitar 20 inovasi, seperti tong sampah sensor, lampu yang menyala dengan suara, hingga palang pintu kereta api," ucapnya.

Hanya saja, mengingat mereka masih kelas 9, hasil karyanya baru sebatas pengetahuan awal dan tidak langsung menjadi produk. Melalui prototipe awal ini, diharapkan mereka bisa mengembangkannya di kemudian hari ketika sudah bergelut lebih dalam pada ilmu IoT.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved