BPBD Jabar Ingatkan Warga soal Ancaman Siklon Tropis dan Cuaca Ekstrem Seperti di Sumatera
BPBD Jawa Barat menyebut bencana alam yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumetara Barat merupakan bagian dari fenomena siklon tropis.
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Giri
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat menyebut bencana alam yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumetara Barat merupakan bagian dari fenomena siklon tropis dan perubahan cuaca ekstrem.
Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Teten Ali Mulku Engkun, mengatakan, fenomena serupa berpotensi terjadi di wilayah Jabar. Sehingga, hal itu harus menjadi pengingat bagi masyarakat Jabar dalam meningkatkan kewaspadaan.
"Ini bagian dari fenomena siklon tropis dan cuaca ekstrem, perubahan cuaca dan hujan tinggi. Ini jadi early warning bagi Jawa Barat," ujar Teten, Selasa (2/12/2025).
Baca juga: Farhan Ungkap Solusi Masalah Banjir yang Kerap Terjadi di Babakan Ciparay Bandung
Berdasarkan data BMKG, kata dia, Jawa Barat akan menghadapi dua puncak musim hujan. Pertama, pada Desember 2025 dan berikutnya pada Februari–Maret 2026. Kondisi ini, kata Teten, mengharuskan semua pihak mengambil langkah antisipasi lebih dini.
"Maka antisipasi yang dilakukan yaitu surat edaran gubernur soal siaga darurat bencana hidrometeorologi," katanya.
Menurutnya, kondisi itu harus menjadi peringatan dini bagi warga dan pemerintah daerah di Jawa Barat untuk meningkatkan kewaspadaan.
"Ini harus selalu waspada seluruh masyarakat dan pemerintah. Kita harus mitigasi dampak fenomena hidrometeorologi yang bisa berpotensi menimbulkan bencana," ucapnya.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, pun telah memberikan instruksi khusus terkait kesiapsiagaan daerah. Bahkan Pemprov Jabar juga telah menetapkan status siaga darurat bencana sejak 15 September 2025 hingga 30 April 2026.
"Memang Pak Gubernur memberi arahan soal fenomena yang ada. Pertama, kemarin meminta kita harus siap siaga terhadap bencana di semua daerah. Kita tindak lanjuti dengan apel, kemudian rapat teknis bersama BPBD di 27 kabupaten kota apa yang harus dilakukan secara teknis jika terjadi bencana," ucapnya.
BPBD Jabar juga mengeluarkan sejumlah imbauan untuk masyarakat agar potensi risiko dapat ditekan sejak awal. Teten meminta warga meningkatkan kewaspadaan terutama menghadapi hujan intensitas tinggi.
Baca juga: Dedi Mulyadi Pastikan Moratorium Penebangan Hutan Segera Diluncurkan untuk Cegah Bencana
"Tetap waspada dan jangan buang sampah sembarangan agar tidak menimbulkan sumbatan dan terjadi banjir. Kemudian cek lingkungan sekitar, bisa dilihat di inaRisk Personal soal potensi bencana di lingkungan sekitar," katanya.
Khusus masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan, kata dia, harus lebih peka terhadap tanda-tanda awal pergerakan tanah.
"Apabila ada di area perbukitan mendengar suara-suara, segera cari tempat evakuasi. Kemudian cek jalur evakuasi ke mana apabila terjadi bencana," ucapnya.
Kata dia, mitigasi bencana tidak hanya soal kesiapsiagaan teknis, tetapi juga soal kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian lingkungan.
"Mulai dari sekarang harus menjaga alam, kembalikan alam ke fungsinya. Jangan sampai karena keuntungan pribadi kita melupakan tidak menjaga alam. Kalau kita menjaga alam maka alam akan menjaga kita," katanya. (*)
| PMII Jabar Deklarasikan Dasasila Pergerakan untuk Kedamaian dan Keadilan Global |
|
|---|
| Dorong Pemajuan Kebudayaan, Ayi Sahrul Hamzah: Kebudayaan Adalah Aset Strategis Jabar |
|
|---|
| Diskusi Publik PWI Jabar, Pengurus Cabor Menjerit Jelang Porprov 2026 |
|
|---|
| Respons Dedi Mulyadi soal Perlintasan KA di Bekasi Masih Dijaga Warga, Bangun Palang Otomatis |
|
|---|
| Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru Jumat 1 Mei 2026, Cek Pertamax di Jabar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Kepala-Pelaksana-BPBD-Jawa-Barat-Teten-Ali-Mulku-Engkun-saat-podcast.jpg)