Apa itu Naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian? Berikut Penjelasan Filolog Anggi Endrawan
Anggi Endrawan mengatakan untuk membuka kembali isi naskah kuno bukan perkara sederhana.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Ravianto
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Provinsi Jawa Barat terdapat prosesi pembacaan naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian, yang dibacakan oleh anggota DPR RI Rieke Dyah Pitaloka dan budayawan Iman Soleh.
Mengutip dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, Naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian ditulis pada tahun 1440 saka atau 1518 M, dalam bahasa Sunda kuno.
Naskah ini ditulis di daun nipah.
Naskah ini oleh sebagaian ahli dianggap sebagai pustaka ensiklopedik, yang sekarang tersimpan di Perpustakaan Nasional, kropak 630).
Isi naskah ini dibagi 2 bagian.
Yang pertama disebut dasakreta selaku ”kundangeun urang rea” (ajaran akhlak untuk semua orang).
Sedang yang kedua disebut darma pitutur, yang berisi ilmu pengetahuan (bahasa sunda = pangaweruh) yang harus dimiliki oleh setiap manusia agar hidup berguna di dunia.
Meskipun dalam naskah ini berjudul karesian, isinya tidak hanya berkenaan dengan kaum agama, tetapi banyak bertalian dengan kehidupan menurut ajaran darma.
Dan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan ada dalam darma pitutur, seperti apa yang diungkapkan dalam pengantarnya.
Filolog Anggi Endrawan mengatakan naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan memuat tata aturan kehidupan, termasuk nilai-nilai kemanusiaan dan sistem kepemerintahan pada masa kerajaan-kerajaan Sunda.
“Sang Hyang Siksa Kandang Karesian memiliki arti mendalam, Sang Hyang berarti suci, siksa berarti ajaran, dan kandang karesian berarti aturan dengan batasan-batasannya. Dengan kata lain, naskah ini merupakan pedoman hidup, terutama menyangkut tata kelola kenegaraan pada zamannya,” kata Anggi saat ditemui di Gedung Merdeka, Selasa (19/8/2025).
Anggi mengatakan untuk membuka kembali isi naskah kuno bukan perkara sederhana.
Menurutnya seorang filolog yang mampu melakukannya karena prosesnya panjang.
“Ada penelusuran naskah, kemudian transliterasi dari aksara Sunda ke aksara Latin. Setelah itu diterjemahkan ke bahasa Sunda atau Indonesia modern, ditransliterasi dan diterjemahkan, barulah masuk pada kajian teks,” ucap Anggi.
Kajian teks ini, lanjut Anggi, sangat penting karena dari situlah nilai-nilai lokal genius bisa digali kembali untuk diterapkan dalam kehidupan hari ini.
| Selain Dedi Mulyadi Kini Anggota DPR Rieke Diah Pitaloka Senggol Menteri Keuangan Purbaya soal Pajak |
|
|---|
| Sengketa Tanah di Purwakarta, Rieke Diah Pitaloka Indikasikan Ada Mafia Tanah, Penggugat Sakit Hati |
|
|---|
| Rieke Diah Pitaloka: Koperasi Jangan Jadi Penyalur Barang Impor, Tapi Produk Warga Desa |
|
|---|
| Sekolah Negara Dikalahkan Surat Kades, Rieke Diah Minta KY Awasi Kasasi Lahan SMPN 1 Purwakarta |
|
|---|
| Respons Dedi Mulyadi soal Rieke Diah Pitaloka Lapor Jalan Rusak di Cikidang Sukabumi: Sering Dibantu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/naskah-sunda-kuno-Sang-Hyang-Siksa-Kandang-Karesian.jpg)