Foto Lawas KAA Jepretan Inen Masih Tertata Rapi
INEN Rusnan (77), saksi hidup dan pelaku sejarah Konferensi Asia Afrika tahun 1955, masih menyimpan berbagai foto saat KAA berlangsung yang
Penulis: Tiah SM | Editor: Darajat Arianto
Oleh Tiah SM
INEN Rusnan (77), saksi hidup dan pelaku sejarah Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955, masih menyimpan berbagai foto saat KAA berlangsung yang dihadiri puluhan kepala negara.
Kala itu Inen menjadi fotografer yang bertugas mendokumentasikan segala kegiatan pada KAA. Pria kelahiran Sumedang, 28 Agustus 1937, itu tercatat sebagai fotografer termuda.
"Usia saya waktu itu 18 tahun. Saya diajak Pangdam untuk mendokumentasikan kegiatan KAA," ujar Inen saat menerima kunjungan Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda, di kediamannya di Jalan Hegar Asih II, Cipaganti, Kota Bandung, Selasa (23/4).
Inen kini tinggal di sebuah gang sempit di belakang kantor Kelurahan Cipaganti bersama istrinya, Dedeh Kurnaesih. Dengan fasih, Inen bercerita bahwa di tahun 50-an itu, ia bekerja sebagai salah satu kontributor foto untuk media cetak terbitan Bandung.
Hingga kini foto-foto hasil jepretannya masih tertata dan tersimpan rapi, di antaranya kedatangan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher ke Kota Bandung, peletakan batu pertama pembangunan Universitas Padjadjaran oleh Presiden Soekarno, hingga peletakan batu pertama pembangunan Kolam Renang Karangsetra.
"Saya datang ke Bandung tahun 1947 dengan berjalan kaki dari Sumedang karena tak ada kendaraan," ujar Inen mengenang masa lalunya.
Inen menekuni dunia fotografer sejak usia 15 tahun. Ia mengirim foto ke berbagai media karena saat itu di Kota Bandung hanya ada tiga "tukang foto", dan mereka bersaing untuk lebih cepat mengirim, karena yang cepat yang dimuat.
Berkat karyanya sering dimuat di berbagai media, akhirnya Inen diajak Pangdam Siliwangi (saat itu) Ibrahim Aji. "Jang, jangan ke mana-mana, bantu kegiatan Kodam," ujar Inen menirukan ajakan Pangdam.
Ketika itu, Inen tak bisa memenuhi ajakan Pangdam. Karena jika hanya memotret untuk kegiatan Kodam, ia tak bisa mengirim foto ke berbagai koran.
Saat akan digelar KAA, Inen ingin jadi ajudan Soekarno. Namun ternyata ia malah diberi tugas mengabadikan kegiatan KAA. "Saya sangat terkesan karena bisa bertemu para kepala negara peserta KAA dan akrab dengan pasukan Cakrabirawa pengawal Presiden Soekarno," kata Inen.
Inen pun terkesan ketika ada rombongan tamu dari Rusia diadang oleh pasukan sakit hati bersenjata. Ketika itu Soekarno keluar dari mobil menghampiri pengunjuk rasa dan minta jangan menembak tamu, tapi tembaklah dirinya. Menurut Soekarno, menembak tamu sama dengan menembak rakyatnya.
Setelah menceritakan pengalamannya, ayah dari enam anak dan 17 cucu ini menyampaikan unek- uneknya soal kondisi Braga sekarang. Dia pun meminta Ayi menjaga kelestarian kawasan yang sesungguhnya menjadi potret Kota Bandung.
"Saya kangen Braga tempo dulu, bersih asri sebagai Paris van Java dan ikon Kota Bandung. Paris van Java bukan Sukajadi atau Cihampelas. Tolong jaga Braga, jangan sampai hilang keasriannya," pesan Inen.
Inen mengaku prihatin dan miris karena Jalan Braga terkesan menjadi jalan mati karena banyak toko yang tutup dan penuh coretan kusam. "Seharusnya dicat. Kalau ada yang corat-coret, pelakunya ditindak agar tidak mengulang perbuatannya," pinta Inen.
Menurut Inen, dalam sejarahnya Braga itu berasal dari pengertian tempat berlaga. Artinya, Braga menjadi tempat warga memperlihatkan penampilan dan status sosialnya berlaga dan bergaya.