Dualisme Kadin Jabar Dinilai Hambat Iklim Usaha, Pengurus Daerah Minta Konflik Segera Disudahi
Ketua Kadin Garut Rajab Priyaldi menilai konflik kepengurusan Kadin Jabar telah menghambat program ekonomi daerah dan menurunkan kepercayaan.
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Ringkasan Berita:
- Ketua Kadin Garut Rajab Priyaldi menilai konflik kepengurusan Kadin Jabar telah menghambat program ekonomi daerah dan menurunkan kepercayaan perbankan serta publik.
- Melalui FGD bersama FJE Indonesia, ia mendesak para pihak yang berselisih untuk duduk bersama melakukan rekonsiliasi sesuai AD/ART.
- Rajab juga meminta Gubernur Dedi Mulyadi turun tangan membantu menjembatani mediasi tersebut.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Konflik kepengurusan yang masih membelit Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Barat dinilai menghambat perekonomian di Jabar.
Ketua Kadin Garut, Rajab Priyaldi mengatakan, dampak paling terasa dari konflik yang berkepanjangan adalah menurunnya kepercayaan publik terhadap organisasi pengusaha.
Kondisi itu dinilai berbahaya karena Kadin memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi.
"Kadin ini kumpulan pengusaha dan investor. Bukan kumpulan pengusaha yang mengharapkan proyek pemerintah. Tugasnya menciptakan lapangan kerja, menciptakan kondisi ekonomi yang kondusif. Kadin itu motor penggeraknya," ujarnya saat ditemui dalam acara Forum Jurnalis Ekonomi Indonesia (FJE Indonesia) di Hotel Horison, Selasa (9/6/2026).
Rajab menilai energi organisasi saat ini habis untuk menghadapi konflik internal dibanding menjalankan program-program yang bermanfaat bagi dunia usaha.
"Pada saat kubu-kubuan begini kapan mau kerja? Yang bahaya itu kepercayaan publik berkurang," katanya.
Ia mencontohkan, kebingungan juga mulai muncul di kalangan mitra usaha maupun perbankan akibat adanya dua kubu kepengurusan.
"Kalau ada yang bertanya, 'Kadin yang mana?' selesai kita sudah. Kita pengusaha hubungannya dengan perbankan," ucapnya.
Oleh karena itu, pihaknya bersama FJE Indonesia menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama perwakilan Kadin kabupaten dan kota.
"Keinginan kita sederhana, ayo kita selesaikan Kadin ini dengan baik-baik. Siapapun yang jadi ketua silakan, asal sesuai dengan AD/ART. Kita tidak punya keinginan ketuanya harus si A, si B atau si C. Yang penting jalankan sesuai aturan," ujar Rajab.
Ia menyebut, persoalan yang terjadi saat ini telah memengaruhi citra organisasi yang selama ini menjadi wadah resmi dunia usaha dan dilindungi undang-undang.
"Biar kepercayaan publik kepada Kadin kembali tumbuh. Karena satu-satunya organisasi yang dilindungi undang-undang adalah Kadin," katanya.
Rajab bahkan mengusulkan agar para pihak yang berselisih duduk bersama untuk mencari jalan keluar.
Menurut dia, konflik tersebut seharusnya bisa diselesaikan melalui dialog langsung.
| Dinilai Langgar Peraturan Organisasi, Kadin Jabar Ambil Alih Kepengurusan Kadin Kabupaten Bekasi |
|
|---|
| Jadi Ketua Kadin Purwakarta, R Priyatna Kusuma Ditantang Om Zein Wujudkan Target Investasi Rp15 T |
|
|---|
| Atasi Masalah Sampah, Pemprov Jabar dan Sumitomo Teken MoU PLTSa Legok Nangka Lewat Peran Kadin |
|
|---|
| Pelemahan Rupiah hingga Daya Beli Lesu, Kadin Beberkan Beban Pengusaha Saat Ini |
|
|---|
| Pelemahan Rupiah Bebani Manufaktur dan UMKM, Kadin Kota Bandung: Pasti Terasa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/FGD-Forum-Jurnalis-Ekonomi-Indonesia-FJE-Indonesia.jpg)