Selasa, 2 Juni 2026

APTI Jabar Tolak Standar WHO Soal Tar dan Nikotin, Singgung Karakter Unik Varietas Tembakau Sumedang

Kadar nikotin tembakau Sumedang relatif tinggi karena ditanam di dataran tinggi sehingga memiliki karakter kuat kandungan nikotinnya. 

Tayang:
Tribun Jabar/Seli Andina
Enong (60), petani tembakau sedang menjemur tembakau di daerah Pasigaran, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Sabtu (18/1/2020). Petani tembakau di Jawa Barat khawatir dengan munculnya rencana rekomendasi batas maksimal kadar tar dan nikotin yang tengah dirancang oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (KemenkoPMK). 
Ringkasan Berita:
  • Petani tembakau di Jabar, khususnya di Sumedang, khawatir dengan rencana pembatasan kadar tar dan nikotin yang tengah dirancang oleh Kemenko PMK.
  • Sumedang dikenal menghasilkan tembakau mole dan tembakau hitam bersertifikat Indikasi Geografis (IG), dengan ciri khas irisan tipis, aroma unik, dan panen hingga tiga kali setahun.
  • Pembatasan kadar tar dan nikotin dikhawatirkan menambah pengangguran di sektor on-farm dan industri, serta mengancam keberlangsungan ekonomi lokal.

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurrahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Petani tembakau di Jawa Barat khawatir dengan munculnya rencana rekomendasi batas maksimal kadar tar dan nikotin yang tengah dirancang oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ( Kemenko PMK ). 

Aturan tersebut, dikhawatirkan dapat mematikan petani tembakau, khususnya di kawasan dataran tinggi seperti Kabupaten Sumedang

Ketua Dewan Perwakilan Cabang Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPC APTI) Sumedang, Otong Supendi, mengatakan, setiap daerah memiliki karakter tanah dan suhu cuaca yang berbeda. Sehingga untuk pengembangan varietas tembakau juga tergantung daerahnya. 

Baca juga: Narkoba di Jawa Barat 2025: Pengungkapan Ekstasi Meroket 3.976 Persen, Tembakau Gorila Tembus 1 Ton

Dikatakan Otong, kadar nikotin tembakau Sumedang relatif tinggi karena ditanam di dataran tinggi sehingga memiliki karakter kuat kandungan nikotinnya. 

Pembatasan kadar tar dan nikotin yang mengacu pada standar luar negeri atau WHO, kata Otong, tidak relevan dengan spesifikasi lokasi dan komoditas tembakau di Sumedang. Apalagi, selama ini Sumedang menjadi salah satu daerah penghasil tembakau terbesar Nasional.

"Kenapa semua peraturan yang berkaitan dengan tembakau mengacu pada FCTC (Framework Convention on Tobacco Control)? Sudah jelas ujungnya ini membunuh kami. Pemerintah, apakah siap akan bertambah angka pengangguran, baik di industri, maupun di on farm? Kondisi ekonomi saat ini sedang sulit, jangan dibebani lagi dengan aturan pembatasan seperti ini," ujar Otong, Jumat (20/2/2026).

Sumedang sendiri terkenal dengan jenis tembakau mole dan tembakau hitam yang telah mendapatkan sertifikasi Indikasi Geografis (IG), karena memiliki keunikan kualitas dan reputasinya yang dipengaruhi faktor alam dan budaya lokal. 

Ciri khas tembakau ini adalah irisan tipis, aroma khas, dan kemampuan panen hingga tiga kali setahun. Selain di Sumedang, Tembakau Mole juga dibudidayakan di Majalengka dan Garut.

"Jadi, jangan sampai pembatasan kadar tar dan nikotin ini diteruskan. Kenapa petani yang dikorbankan? Seharusnya saat ini semua pihak bersatu memerangi rokok illegal. Lah, kenapa ini justru aturan baru yang dibuat untuk mematikan mata pencaharian kami," katanya.

Sambas, Ketua DPD APTI Jawa Barat menekankan bahwa Jawa Barat menyumbang 28 persen hasil tembakau nasional. 

Jawa Barat memiliki target pada tahun 2045 bisa menyumbang 48 persen hasil tembakau Nasional. Oleh karena itu, industri tembakau di Jawa Barat harus digenjot agar lebih produktif dan bisa menghasilkan produk tembakau yang banyak dan berkualitas tinggi. 

Baca juga: Awalnya Belasan Ekor, Kini Domba Petani Tembakau di Sumedang Sudah Beranak Pinak Jadi Puluhan

"Petani tembakau di Jawa Barat, mulai dari Sumedang, Garut, Kabupaten Bandung Barat, Majalengka, telah lama mengembangkan teknik budidaya yang diwariskan secara turun-temurun untuk menghasilkan tembakau berkualitas tinggi. Berbagai varietas tembakau ditanam menyesuaikan dengan karakteristik tanah di setiap kecamatan, sehingga menghasilkan produk dengan kualitas yang beragam,"ujar Sambas.

Sambas menilai, memaksakan pembatasan kadar tar dan nikotin, berarti sama saja dengan mengingkari kontribusi tembakau Jawa Barat yang telah turun temurun menghidupi petani dan masyarakat. 

"Kami akan melawan. Hanya orang-orang munafik lah yang tidak menghargai kontribusi tembakau," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved