Sabtu, 30 Mei 2026

Tekankan Tiga Pokok Utama, Dedi Mulyadi Sebut Program MBG di Jabar Harus Gerakkan Ekonomi Daerah

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Jawa Barat jangan hanya sebatas pemenuhan kebutuhan gizi anak.

Tayang:
Tribun Jabar/Rahmat Kurniawan
MBG - Foto arsip ilustrasi yang memperlihatkan menu MBG. Dedi Mulyadi sebut program MBG di Provinsi Jawa Barat jangan hanya sebatas pemenuhan kebutuhan gizi anak namun juga harus memberi manfaat bagi ekosistem ekonomi di Jawa Barat. 
Ringkasan Berita:
  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Jawa Barat jangan hanya sebatas pemenuhan kebutuhan gizi anak.
  • MBG juga harus memberi manfaat bagi ekosistem ekonomi di Jawa Barat
  • Menurut Dedi Mulyadi, program tersebut harus dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan membangun budaya produktif sejak usia sekolah
  • KDM sebut ada tiga titik tekan utama yang harus dikawal dalam pelaksanaan MBG di Jawa Barat

 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Jawa Barat jangan hanya sebatas pemenuhan kebutuhan gizi anak.

MBG juga harus memberi manfaat bagi ekosistem ekonomi di Jawa Barat.

Hal itu diungkapkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi seusai Rapat Koordinasi Penyelenggaraan MBG di Provinsi Jawa Barat yang digelar di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (17/12/2025).

Menurut Dedi, program tersebut harus dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan membangun budaya produktif sejak usia sekolah.

"Kita mencoba membangun kerja sama, bahwa MBG merupakan program bersama baik pusat maupun daerah sehingga pelaksanaannya harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi laju pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya saing, peningkatan kualitas kesehatan warga, dan membangun rasa keadilan," ujar Dedi.

Baca juga: Dedi Mulyadi Dukung Pemkot Bandung untuk Bongkar Teras Cihampelas: Secara Estetika Goreng

Menurutnya, ada tiga titik tekan utama yang harus dikawal dalam pelaksanaan MBG di Jawa Barat:

  • Pertama, Rp54 triliun harus beredar di wilayah provinsi Jabar dan salah satunya menggunakan jasa perbankan daerah.
  • Kedua, siklus ekonomi MBG harus bertumpu pada produktivitas petani kecil. Program ini, kata dia, harus menjadi pasar langsung bagi hasil pertanian dan peternakan rakyat tanpa rantai distribusi yang panjang.
  • Ketiga, Dedi mendorong agar MBG terintegrasi dengan dunia pendidikan. Dedi mendorong agar sekolah menjadi ruang pembelajaran produktif, di mana siswa tidak hanya menerima makanan bergizi, tetapi juga belajar proses produksi pangan secara langsung.

"Kemudian yang berikutnya adalah didorong juga bahwa basic basic produknya juga merupakan basic produk pendidikan sekolah, jadi anak-anak sekolah didorong untuk memelihara ayam, menanam sayur dan kemudian menanam pisang, menanam beras dan itu bagian dari pembelajaran pendidikan, karena di sekolah itu ada pelajaran IPA," katanya.

Satu Pasti Out, Ini Datar Pemain Persib yang Potensi Dilepas Pada Jeda Transfer Musim 2025/26

Pelajaran IPA di sekolah, kata Dedi, titik tekannya adalah pembelajaran outing class untuk membangun kerangka berpikir produktivitas di sekolah. 

“Bahkan Saya menyarankan halaman-halaman sekolah itu juga digunakan menjadi tempat produktivitas pertanian, termasuk sayur-sayuran bisa ditanam di sekolah," ucapnya.

Dedi optimistis jika konsep tersebut dijalankan secara konsisten, perputaran uang dari program MBG akan benar-benar dirasakan masyarakat luas di Jawa Barat.

"Kalau semua ini berjalan maka uang yang beredar itu akan beredar dan tangan ke tangan dan satu kesatuan masyarakat, sehingga ini akan melahirkan daya dukung, daya dorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved