Respons Dedi Mulyadi Soal Kenaikan Harga Gas LPG, Beri Saran Alternatif
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan respons soal kenaikan harga Gas LPG yang sedang terjadi, berikan saran alternatif bagi warga.
Penulis: Hilda Rubiah | Editor: Hilda Rubiah
Saat menerima kunjungan dari tokoh-tokoh organisasi Mathla'ul Anwar, Dedi memamerkan sistem pengelolaan limbah ternak yang mampu menyuplai kebutuhan gas dapur warga sekitar secara cuma-cuma.
Ia menjelaskan bahwa konsep hidupnya adalah "berlatih tinggal di surga" dengan menjaga keselarasan alam, kebersihan, dan kemandirian.
Di lahan seluas puluhan hektar itu, Dedi Mulyadi mengelola 200 ekor sapi dan ratusan domba Garut dalam lingkungan yang sangat terjaga kebersihannya.
Baca juga: Gagasan Dedi Mulyadi Usulkan Pembangunan Underpass Jalan Pasteur ke Pemkot Bandung Solusi Kemacetan
Di kandang sapi tersebut, Dedi Mulyadi menunjukkan inovasi yang paling mencolok yaitu pengolahan kotoran sapi menjadi biogas.
Sebanyak 240 ekor sapi jantan miliknya menghasilkan energi yang disalurkan melalui pipa-pipa langsung ke rumah warga.
"Tetangga-tetangga di sini dikasih gas dari sini, biogas dari kotorannya. Kalau gas melon, sudah tidak ada lagi di sini," ujar Dedi Mulyadi sambil menunjukkan api biru yang menyala di salah satu dapur warga.
Dedi Mulyadi menekankan bahwa fasilitas ini diberikan secara gratis kepada masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan implementasi nyata dari teori kebersihan yang sering dibicarakan.
Kenaikan Harga BBM, Plastik hingga LPG Bikin Pelaku Usaha di Jawa Barat Menjerit
Kenaikan harga LPG dan plastik berdampak langsung pada lonjakan biaya operasional.
Kondisi ini sangat memberatkan pengusaha yang sudah terikat kontrak tetap dengan instansi atau perusahaan, karena mereka tidak bisa menaikkan harga di tengah jalan sehingga margin keuntungan menipis drastis.
“Dari sisi kami sebagai pelaku jasa boga, ini sangat berpengaruh, kami sudah menjerit. Kenaikan LPG dan plastik langsung berdampak ke harga jual,” ujar Ketua Perkumpulan Penyelenggara Jasa Boga Indonesia (PPJI) Jawa Barat, Rezha Noviana saat dihubungi, Senin (20/4/2026).
Untuk menyiasati biaya yang membengkak, pelaku usaha mulai melakukan efisiensi kreatif namun miris, seperti mengganti kantong plastik dengan tali rafia untuk mengikat kemasan.
Namun, efisiensi ini terbatas karena standar penyajian seperti boks dan sendok tetap harus terpenuhi, sementara alternatif untuk LPG sebagai bahan bakar utama belum tersedia.
Selain kenaikan biaya produksi, sektor jasa boga terpukul oleh penurunan daya beli masyarakat dan hilangnya pesanan dari instansi pemerintah akibat efisiensi anggaran.
Ketua PPJI Jabar, Rezha Noviana, menyayangkan kurangnya keterlibatan pelaku usaha dalam kebijakan pemerintah serta tidak adanya insentif atau keringanan pajak di tengah situasi ekonomi yang sulit ini.
| Diserang Video Viral Warga Kaltim dan Pangandaran, Dedi Mulyadi Ogah Marah Malah Kirim Bantuan |
|
|---|
| Ke Papua, Dedi Mulyadi Soroti Pengetahuan Masyarakat Adat, Puji Rumah Korowai Sains Tingkat Tinggi |
|
|---|
| Disidak Dedi Mulyadi, DLH Kota Bandung Butuh Waktu 3 Hari Angkut 560 Ton Sampah di TPS Ciwastra |
|
|---|
| Harga Tahu di Bandung Rawan Terdampak Pelemahan Rupiah, Bahan Pokok Cenderung Stabil |
|
|---|
| Dituduh Menipu dan Dilecehkan Lewat Video, Dedi Mulyadi Beri Respons Bijak dan Bantuan Nyata |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Gubernur-Jawa-Barat-Dedi-Mulyadi-di-Gedung-Pakuan-Rabu-1542026.jpg)