Ojek, Nama yang Ikut Membuat Gojek Berhasil Bangun Brand Image Kuat di Indonesia
Selama satu dekade berkiprah, Gojek telah berhasil membangun brand image yang kuat sebagai pionir transportasi online di Indonesia.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Giri
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengamat Ekonomi dari UPN Veteran Yogyakarta, Ardito Bhinadi, menilai selama satu dekade berkiprah, Gojek telah berhasil membangun brand image yang kuat sebagai pionir transportasi online di Indonesia.
"Ketika dia membuat branding dengan nama Gojek, dia sudah menang banyak langkah dengan pesaing-pesaing yang saat ini sudah ada atau mungkin yang akan muncul suatu saat nanti," ujar Ardito melalui siaran digital, Minggu (15/11/2020).
Ardito mengatakan, sudah banyak bisnis pesaing sejenis Gojek seperti Maxim, in Driver, dan startup lokal lainnya.
Namun Gojek dinilai telah berhasil memanfaatkan nama yang sudah umum dikenal oleh masyarakat, yaitu ojek.
Ojek sendiri sudah dikenal sejak dulu sebelum adanya transportasi online.
"Lalu hadir ojek online dengan nama Gojek yang mudah diterima masyarakat karena sudah familier. Sehingga apa pun nanti nama pesaingnya, orang akan tetap menyebutnya Gojek. Maka posisi Gojek saat ini adalah pionir transportasi online di Indonesia, transportasi online ya Gojek," kata Ardito.
Baca juga: Link Live Streaming MotoGP Valencia Mulai Pukul 20.00 WIB, Morbidelli Pole Joan Mir Tercecer
Menurut Ardito kecerdasan para pengelola Gojek telah membuat perusahaan ini berhasil memperkuat fundamental bisnis yang kuat dan mampu bertahan melewati masa pandemi dengan strateginya.
Sebelumnya pada perayaan hari ulang tahun ke-10 yang digelar Kamis (12/11/2020), Gojek mengumumkan fundamental perusahaan di tahun 2020 yang semakin kuat didukung oleh total nilai transaksi di dalam platform Gojek group (Gross transaction value - GTV) yang mencapai USD 12 miliar (sekitar Rp 170 triliun) atau meningkat 10 persen dibandingkan tahun lalu.
Pencapaian ini didorong antara lain oleh transaksi dari pengguna aktif bulanan (monthly active users) Gojek yang telah mencapai 38 juta pengguna di seluruh Asia Tenggara.
Sementara itu, GTV dari layanan pembayaran digital, GoPay, saat ini telah melampaui total GTV di masa pra-pandemi seiring dengan semakin banyaknya konsumen dan merchant yang beralih ke layanan digital dan bertransaksi secara online.
Di posisi saat ini, lanjut Ardito, Gojek tidak perlu lagi melakukan strategi bakar uang.
Lebih baik potensi yang ada digunakan untuk memperkuat jejaring Gojek di bisnis intinya. Memperluas pasar bisnis layanan pesan antar dan logistik yang telah menjadi kebutuhan masyarakat.
Baca juga: Persib Bandung Liburkan Sesi Latihan Dua Bulan, Ini yang Dilakukan Zulham Zamrun
"Bakar uang pun saat ini tidak akan berdampak besar. Orang sudah punya preferensi sendiri berdasarkan pengalamannya menikmati promo-promo yang ditawarkan. Orang sudah mulai rasional. Meskipun banyak pilihan, preferensi sendiri berdasarkan pengalaman sulit bergeser," kata pengamat dari Pusat Studi Ekonomi Industri Skala Kecil UPN Veteran Yogyakarta itu.
Ardito berharap setelah pandemi Covid-19 berakhir, Gojek tetap fokus dalam penguatan digitalisasi UMKM.