Perjalanan Lima Tahun Silmi Jadi Barista: Dulu Hanya Anggap Kerjaan, Kini Jadi Ruang Bertumbuh
Perjalanan Silmi di dunia kopi tidaklah instan. Lima tahun lalu, ia tak pernah membayangkan akan berdiri di panggung kompetisi seperti hari ini.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Silmi Zaulia (23) tampak percaya diri di hadapan juri dalam ajang kompetisi manual brew di acara Kopi Festival Indonesia yang diadakan di 23 Paskal.
Meskipun kompetisi ini adalah ajang pertamanya, namun Silmi tampak santai menceritakan perjalanannya menjadi barista hingga kopi seduhannya.
Perjalanan Silmi di dunia kopi tidaklah instan. Lima tahun lalu, ia tak pernah membayangkan akan berdiri di panggung kompetisi seperti hari ini.
Latar belakangnya justru di bidang teknik komputer jaringan. Ia memulai karier sebagai admin kantor, sebelum akhirnya banting setir menjadi barista.
“Aku nggak ada ketertarikan sama kopi awalnya, hanya mikir dunia kopi tuh isinya orang-orang ramah, humble, kayaknya nyaman buat kerja,” ujar Silmi saat ditemui seusai perlombaan, Jumat (4/7/2025).
Pekerjaan barista pertamanya adalah part-time di Gerobak Kopi Dibalik Senja di kawasan Babakan Siliwangi. Setelah itu, ia sempat menjalani dua part-time sekaligus.
Ketika bergabung dengan Trikuto Kopi di Cihapit, Silmi mulai belajar kopi dari nol secara serius. Di sana pula ia merasakan pekerjaan full-time barista pertama kali.
Kariernya berlanjut hingga ke Melangkah Madjoe di Cibadak dan kemudian ke Second Floor Coffee di BSD selama hampir dua tahun.
Dari tempat inilah ia mulai memahami bahwa kopi bukan sekadar pekerjaan, tapi sebuah dunia yang luas, penuh rasa dan keahlian.
Silmi mengakui rasa cinta pada dunia kopi tak datang di awal. Ia melihat pekerjaan sebagai barista hanya sebagai mata pencaharian, tanpa benar-benar memahami atau mencintai kopi itu sendiri.
“Kalibrasi kopi ya hanya sebagai rutinitas kerja. Aku enggak pernah mikir soal rasa kopi yang memiliki varian rasa yang unik dan berbeda-beda,” ujar Silmi.
Ironisnya, Silmi juga ternyata intoleran laktosa, yang baru ia sadari setelah beberapa kali sakit perut saat proses kalibrasi susu.
Namun, alih-alih mundur, ia terus bertahan dan justru makin memperdalam pengetahuannya, terutama setelah bergabung dengan Fugol pada Februari 2025.
Di Fugol, ia merasa mendapat dorongan dan lingkungan belajar yang tepat, dari barista-barista senior hingga sang pemilik, semua memberikan motivasi.
“Aku suka ditanya targetnya apa tahun ini ? Itu memicu aku untuk punya arah, dan ketika ditawarin ikut kompetisi, ya aku anggap itu tantangan dan kesempatan,” ucapnya.
Setelah bergabung di Fugol, Silmi pun menyadari satu hal penting, bahwa setiap orang punya resep manual brew sendiri.
Selama ini, ia hanya memegang satu resep standar yang tak pernah diubah.
Tapi di Fugol, ia melihat barista lain punya pendekatan berbeda. Saat ia mencicipi seduhan temannya, rasanya sangat berbeda, dan itu jadi titik balik.
“Aku baru tahu ternyata rasa kopi bisa keluarin rasa kayak brown sugar, orange, bahkan berries. Dulu aku cuma pakai satu resep pembuatan dan rasanya selalu sama,” tuturnya.
Ia pun mulai belajar lebih dalam mulai dari karakter biji kopi, suhu air, grind size, sampai teknik pouring, semuanya diulang dari awal, meski sudah lima tahun bekerja sebagai barista.
“Rasanya kayak terlambat tahu. Ilmu yang harusnya bisa aku pelajari dari dulu, baru aku kejar sekarang,” kata dia.
Meski masih ada stereotip bahwa barista perempuan hanya pemanis di balik bar, Silmi memilih membuktikan sebaliknya. Ia percaya bahwa kemampuan tak ditentukan oleh gender, tapi kemauan untuk belajar.
“Di Fugol, cewek itu enggak dinilai dari wajah manis, tapi dari kemauan belajar. Cewek juga diprioritaskan karena dianggap lebih terorganisir dan cepat belajar,” katanya.
Ia mengakui, butuh keberanian untuk tampil di kompetisi dan membuka diri terhadap dunia perkopian yang lebih luas.
Tapi justru dorongan dari lingkunganlah yang membuatnya akhirnya bisa berdiri di panggung Kopi Festival Indonesia.
Kini, setelah pengalaman pertamanya di kompetisi, Silmi merasa semakin terhubung dengan dunia kopi. Ia berharap bisa terus berkembang, mengikuti tren dan teknik terbaru, serta membawa nama Fugol Coffee lebih dikenal luas.
Bandung Jadi Tuan Rumah Event Kecantikan, Keseruan Watsons Beauty My Way di Paskal 23 |
![]() |
---|
Tren Sepatu Tipis Bergaya Klasik Kian Diminati Pecinta Fesyen di Kota Bandung |
![]() |
---|
Lokasi Nobar Persib Bandung vs Bali United Malam Ini, dari Gratis sampai Berbayar |
![]() |
---|
10 Lokasi Nobar Persib Bandung vs Bali United Jumat 18 April 2025 di Bandung Raya, Bobotoh Merapat |
![]() |
---|
17 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Australia Sore Ini di Bandung Raya, Ada Bioskop hingga Kafe |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.