Kondisi Ekstrem Mulai Terjadi, BMKG Minta Warga dan Operator Transportasi Patuhi Informasi Cuaca
Masyarakat di seluruh Tanah Air diminta untuk waspada terhadap kondisi cuaca yang berpotensi ekstrem di berbagai wilayah Indonesia.
TRIBUNJABAR.ID - Masyarakat di seluruh Tanah Air diminta untuk waspada terhadap kondisi cuaca yang berpotensi ekstrem di berbagai wilayah Indonesia.
Meskipun sebagian wilayah telah memasuki musim kemarau, namun kondisi atmosfer dan laut masih sangat dinamis. Kondisi itu bisa berdampak pada keselamatan serta kelancaran aktivitas masyarakat.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati.
Dwikorita merespons berbagai kejadian di tengah cuaca ekstrem seperti insiden kecelakaan transportasi, seperti insiden kapal KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali pada 1 Juli 2025, serta sejumlah penerbangan yang terganggu akibat cuaca buruk.
"Cuaca ekstrem juga masih berlangsung hingga awal Juli," papar Dwikorita dalam keterangan di Jakarta Pusat, Kamis (3/7/2025).
Baca juga: Besok Bandung Zoo Kembali Buka, Pengelolaan Diambil Alih Manajemen Yayasan Margasatwa Tamansari
Dwikorita pun mengimbau seluruh operator transportasi darat, laut, dan udara untuk secara aktif memantau dan mematuhi informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.
“Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak mengabaikan informasi cuaca, terutama ketika merencanakan perjalanan selama masa liburan sekolah. Informasi cuaca lengkap dapat diakses melalui berbagai kanal komunikasi resmi BMKG, seperti aplikasi infoBMKG, situs www.bmkg.go.id, serta media sosial resmi @infoBMKG,” ujar Dwikorita.
Sementara itu Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengatakan bahwa kondisi laut juga turut memperparah potensi cuaca ekstrem.
Bibit siklon tropis 98W yang terpantau di sekitar Luzon memang tidak berdampak langsung ke Indonesia, namun menyebabkan peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan.
Sementara itu, sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatera dan Samudera Pasifik utara Papua Nugini menciptakan zona konvergensi dan konfluensi di beberapa perairan Indonesia, seperti Laut Jawa, Laut Flores, dan wilayah Maluku bagian utara.
“Fenomena ini meningkatkan risiko gelombang tinggi dan hujan lebat di perairan terbuka. Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius bagi sektor pelayaran dan nelayan,” katanya. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Cuaca Ekstrem Masih Berlangsung, Kepala BMKG: Operator Transportasi Harus Patuhi Informasi Cuaca
Prakiraan Cuaca Bandung Raya Dalam Sepekan ke Depan, Berawan dan Potensi Hujan Ringan |
![]() |
---|
Ada 13 Kali Gempa Bumi Susulan yang Terjadi di Bekasi, Pemicunya Sesar Patahan Segmen Citarum |
![]() |
---|
Gempa Bekasi Diduga akibat Sesar Dangkal, BMKG Catat Gempa Susulan M 2,1 |
![]() |
---|
Gempa Bekasi M 4,9 Terasa hingga Purwakarta, Warga Panik Berhamburan Keluar Rumah |
![]() |
---|
Gempa Bumi M 4,9 Guncang Bekasi, Getaran Terasa sampai Depok dan Sukabumi |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.