Selasa, 28 April 2026

Nikmatnya Sarapan Jajanan Tradisional Surabi Asmara di Soreang

Surabi Asmara setia pada 100 persen tepung beras yang digiling sendiri setiap hari.

putri puspita n
SURABI - Berbagai rasa surabi di Surabi Asmara di Soreang 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Matahari yang cerah begitu menghangatkan tubuh para pesepeda yang istirahat sambil menyantap Surabi Asmara.

Meskipun kini tempat sarapan viral cukup banyak ditemui, namun menikmati sarapan surabi hangat masih menjadi favorit banyak orang.

Seperti Surabi Asmara yang berada di Jalan Al Fathu, Soreang yang selalu penuh pengunjung saat pagi hari.

Berada di kios sederhana, surabi yang dimasak secara dadakan dan disajkan kepada pelanggan selagi hangat ini ramai menjadi perbincangan media sosial karena rasanya yang begitu otentik.

Baca juga: Surabi Cihapit Eksis Sejak 1993, Rasa Legendaris yang Tak Pernah Lekang oleh Waktu

Surabi Asmara ini telah berdiri sejak 2010 dan kini dilanjutkan oleh Mara, generasi kedua dari keluarga penjual surabi legendaris.

Mara mengatakan awalnya, warung ini dikenal dengan nama Surabi Kabupaten, merujuk pada lokasi jualannya yang tak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Bandung. 

“Dulu namanya dikenal Surabi Kabupaten, soalnya mama jualan di sini juga, tapi di sebelah sana. Sekarang saya terusin, ganti nama jadi Surabi Asmara pada 2018 karena terinspirasi dari nama keluarga saya sendiri,” ujar Mara, pemilik kedai.

Ia menyebutkan, nama “Asmara” adalah akronim yang punya makna personal. 

“As itu dari istri saya, Asraf nama anak saya, dan Mara itu nama saya sendiri. Jadi Asmara itu singkatan kami bertiga,” katanya ramah.

Meski nama berganti, Mara tetap menjaga kualitas rasa surabi dari sang ibu. 

Mara menyebutkan Surabi Asmara setia pada 100 persen tepung beras yang digiling sendiri setiap hari.

“Kalau kami beda dari yang lain. Surabi di sini 100 persen pakai tepung beras, enggak dicampur terigu. Tepungnya juga kami giling sendiri, jadi rasanya khas dan teksturnya tetap lembut,” kata Mara.

Dalam sehari, Surabi Asmara bisa mengolah hingga 15 kilogram tepung beras, dan bisa meningkat jadi 25 kilogram di akhir pekan. 

“Hari biasa mah 15 kiloan, kalau Jumat-Sabtu bisa sampai 18 kilo, Minggu bisa sampai 25 kilo, bahkan satu karung, Alhamdulillah ramai terus,” ungkapnya.

Sambil membuat pesanan surabi, Mara menyebutkan ia menyajikan varian surabi tradisional seperti kinca dan oncom, harganya juga terjangkau mulai dari Rp 2.500 hingga Rp 8.000 saja.

Baca juga: Aromanya Menggoda, Nikmatnya Surabi Durian Bi Juhe, Jajanan Pasar dari Palabuhanratu Sukabumi

“Yang paling favorit itu surabi telor oncom cabe. Untuk yang menyukai rasa manis, ada juga menu seperti coklat dan keju. Dulu waktu Mama belum jual yang manis. Sekarang saya tambah varian coklat-keju, biar anak muda juga suka,” tuturnya.

Tingginya antusiasme masyarakat untuk menikmati surabi, membuat Surabi Asmara membuka kedainya dua kali dalam sehari, yaitu mulai pukul 05.30 sampai 10.00, lalu sore  pukul 16.00 hingga 21.00 WIB.

“Buka dua kali, pagi buat yang habis olahraga biasanya. Sore sampai malam juga ramai terus, apalagi malam Minggu,” tutur Mara.

Tak hanya warga sekitar yang datang. Surabi Asmara juga jadi langganan instansi seperti Pemda, Polres, dan Samsat.

“Sering juga menerima pesanan dari kantor-kantor, tadi aja baru kirim hampir 50 biji. Alhamdulillah,” kata Mara.

Ia pun menegaskan bagi yang tahu rasa surabi asli, tentunya akan tahu perbedaan rasa surabi khas jadul.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved