Mengenal Bencana Likuifaksi dan Penyebabnya yang Berpotensi Mengintai Bandung Timur
Bencana likuifaksi berpotensi mengintai Bandung timur jika terjadi gempa bumi dengan magnitudo yang tinggi. Masyarakat diminta untuk selalu waspada.
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Kemal Setia Permana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bencana likuifaksi berpotensi mengintai Bandung timur jika terjadi gempa bumi dengan magnitudo yang tinggi. Untuk itu seluruh masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.
Likuifaksi adalah fenomena ketika tanah yang jenuh air kehilangan kekuatannya dan menjadi seperti cairan akibat getaran, misalnya akibat gempa bumi, kemudian menyebabkan bangunan, pohon, tanah, dan infrastruktur bisa bergerak.
Kepala Bidang Penanggulangan Bencana, Diskar PB Kota Bandung, Dian Rudianto, mengatakan potensi bencana likuifaksi tersebut telah disampaikan juga oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.
• Cibadak Resmi Menjadi Kampung Toleransi Keenam , Farhan: Bandung adalah Kota Toleran
"Potensi bencana likuifaksi di Bandung itu memang ada, namun itu apabila terjadi gempa bumi, apalagi dampak dari Sesar Lembang yang magnitudo besar," ujar Dian Rudianto, Selasa (29/4/2025).
Menurut Rudi, potensi bencana likuifaksi berpotensi terjadi di wilayah Bandung timur yang meliputi Kecamatan Gedebage, Rancasari, Buah Batu, Panyileukan, Arcamanik, Ujungberung, hingga Cibiru.
"Wilayah Bandung Timur itu yang berpotensi karena daerah itu terdangkal dari Cekungan Bandung, paling dangkalnya di daerah situ. Tapi, itu perlu dikaji oleh ahlinya dalam Kajian Resiko Bencana," katanya.
Atas adanya potensi likuifaksi tersebut, pihaknya sudah melakukan antisipasi seperti melakukan simulasi penanggulangan bencana, edukasi, dan sosialisasi kepada masyarakat di wilayah Bandung Timur.
Namun sayangnya, menurut Rudi, masih banyak masyarakat yang tidak percaya soal bencana ini. Hal itu menjadi tantangan tersendiri.
Baca juga: Ciro Alves adalah Legenda Hidup Persib, Manajemen Bakal Siapkan Momen Emosional Buat Bobotoh
Namun yang penting adalah pihaknya selalu mengingatkan kepada masyarakat.
"Kemudian mengimbau mencari informasi terutama dari BMKG dan BNPB, karena di situ sumber referensi sangat banyak," ucapnya.
Sebelumnya, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan kompleksitas geologis dan demografis Kota Bandung membuat wilayah ini rentan terhadap berbagai bencana, mulai dari banjir, longsor, angin puting beliung, hingga potensi likuifaksi.
Dia pun merujuk pada kajian LIPI dan BRIN yang menyebutkan bahwa ada 10 kecamatan di Bandung yang memiliki potensi terdampak jika terjadi likuifaksi.
"Bencana memang tidak diharapkan, tapi kita harus bisa hidup berdampingan dengannya. Karena itu, kita harus membentuk masyarakat tangguh bencana sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia Kota Bandung," kata Farhan beberapa waktu lalu. (*)
| Jelang Idul Adha, PLN Bandung Timur Salurkan Bantuan Listrik untuk Warga Sukasari |
|
|---|
| Kerap Dikepung Bencana 'Basah', PUTR Kabupaten Bandung Kembangkan Sistem Peringatan Dini |
|
|---|
| Fenomena Kelvin dan MJO Aktif, BMKG Ingatkan Ancaman Bencana Hidrometeorologis selama Long Weekend |
|
|---|
| RCRC Day 2026, PMI dan JRCS Perkuat Kesiapsiagaan Warga di Desa Rawan Bencana |
|
|---|
| Dedi Mulyadi Tawarkan Rp 2 Juta per Bulan bagi Petani Sayuran di Puncak, Asal Mau Ganti Tanaman |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/kerusakan-akibat-fenomena-likuifaksi-gempa-palu_20181006_160116.jpg)