Cerita Buruh Tani yang Ketakutan saat Para Petani Teh Merusak Tanaman Sayur di Pangalengan Bandung

Sebelumnya, pengalihan fungsi lahan terjadi di perkebunan teh milik PT PTPN. Lahan itu berubah menjadi perkebunan sayuran.

Tribunjabar.id / Adi Ramadhan Pratama
KEBUN RUSAK - Kebun sayuran di Desa Pangalengan, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, setelah diamuk para petani teh yang murka, Rabu (23/4/2025). 

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Adi Ramadhan Pratama 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Teriakan amarah dari ratusan petani perkebunan teh menggema di Desa Pangalengan, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung pada Senin (21/4/2025) lalu.

Sebelumnya, pengalihan fungsi lahan terjadi di perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Lahan itu berubah menjadi perkebunan sayuran, hal itulah yang membuat para petani teh mengamuk.

Para petani teh menilai kebijakan itu sebagai bentuk pengabaian atas keberlangsungan hidup mereka. Sebab, mayoritas penduduk di sekitar lahan yang beralih fungsi tersebut merupakan para petani teh.

Di balik kejadian itu, terdapat para petani sayuran yang tidak mengetahui apa-apa. Mereka yang hanya ditugaskan menggarap lahan tersebut, malah harus berhadapan langsung dengan para petani teh yang murka.

Salah satunya yaitu Mak Aci (68). Sebagai buruh tani yang bekerja di lahan yang ditanami sayuran tersebut, dirinya hanya bisa gemetar menyaksikan para petani teh yang mengamuk menghancurkan lahan hasil pekerjaannya.
 
"Kemarin itu saya ketakutan. Saya tidak tahu apa-apa. Saya cuma bekerja seperti biasa, tapi tiba-tiba jadi ramai. Orang-orang pada datang dan berteriak," ujarnya kepada Tribun Jabar pada Rabu (23/4/2025).

Mak Aci menceritakan selain berteriak dan protes, para petani teh yang mengamuk itu juga menyerbu lahan sayuran. Bahkan mereka merusak, mencabut tanaman, hingga melindas ladang dengan menggunakan mobil.

Padahal menurutnya, lahan sayuran yang diisi oleh kentang dan wortel tersebut, sebenarnya sebentar lagi akan siap panen. Bahkan beberapa di antaranya sudah akan diangkut untuk dijual.

"Saya cuma buruh tani. Saya cuma ikuti instruksi dari atasan. Kurang tahu permasalahannya apa, tapi kemarin sayuran yang siap panen itu malah dirusak. Ada sebagian yang dicabut, ada juga yang diambiliin sama mereka," katanya.

Mak Aci berpendapat, sebagai sesama buruh harusnya para petani teh tidak melampiaskan amukannya ke perkebunan yang digarapnya. Sebab, dirinya hanya bekerja demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

"Kita juga sama-sama bekerja. Harusnya langsung aja ke yang di atas (atasannya), jangan malah merusak di sini. Mubazir sayurannya, banyak yang rusak sampai harus dibuang. Kami juga jadi capai ngebersihinnya kemarin," ucapnya. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved