Senin, 1 Juni 2026

Lahan Kritis Pemicu Longsor dan Banjir di Jabar Mencapai 826 Hektare, Ini Cara Dishut Mengantispasi

Lahan kritis di wilayah Provinsi Jawa Barat yang kerap memicu bencana alam seperti longsor dan banjir tercatat mencapai 826.000 hektare

Tayang:
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Ravianto
hilman kamaludin/tribun jabar
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Dodit Ardian Pancapana (Tengah) saat melakukan penanaman pohon di Cimenyan, Jumat (31/1/2025). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Lahan kritis di wilayah Provinsi Jawa Barat yang kerap memicu bencana alam seperti longsor dan banjir tercatat mencapai 826.000 hektare, termasuk di Kawasan Bandung Utara (KBU).

Salah satu lahan kritis di KBU itu berada di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, dengan luas sekitar 6.000 hektare yang selama ini kerap memicu bencana alam terutama banjir di wilayah Bandung Raya.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Jawa Barat Dodit Ardian Pancapana mengatakan, lahan kritis yang mencapai 800.000-an hektare itu tidak bisa ditangani dengan penanaman pohon oleh pemerintah saja, sehingga pihaknya menggandeng komunitas dan masyarakat.

"Kemampuan anggaran kami enggak besar, katakanlah penanaman pohon bisa untuk 1.000 hektare, tapi dengan (lahan kritis) 800.000 hektare itu kapan selesainya, 800 tahun, gitu?," ujar seusai menanam pohon di Cimenyan, Jumat (31/1/2025).

Sementara untuk mengurangi lahan kritis tersebut pihaknya terus mengampanyekan program Jumat Menanam atau upaya menanam pohon yang dilakukan secara serentak di sejumlah daerah Jawa Barat.

"Ini dilakukan oleh para petugas lapangan Dishut bersama dengan komunitas dan warga sekitar. Maksudnya ialah agar semangat untuk mencintai lingkungan, menjaga alam, leuweung, itu bisa ditularkan, diwariskan kepada generasi selanjutnya," kata Dodit.

Baca juga: Tebing 10 Meter di Ciloto Ambrol, 1 Angkot Tertimpa Longsor, Jalan Raya Puncak Tak Terlalu Terdampak

Kampanye penanaman pohon juga, kata dia, dilakukan di wilayah perkotaan, seperti di sekolah atau perkantoran untuk menjaga keseimbangan alam sekaligus mencegah berbagai bencana alam.

"Akibatnya kan bisa kita rasakan, misalnya banjir, longsor, karena banyak kegiatan manusia yang menggunakan teknologi. Kecepatan pembangunan kan tinggi, maka alam akan bereaksi dengan perubahan, yang didefinisikan oleh manusia sebagai bencana," ucapnya.

Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Dishut Jabar Irawan mengatakan, lahan kritis seluas sekitar 6.000 hektare di Cimenyan bukan hanya meliputi lahan gundul, tetapi lahan bervegetasi dengan kelerengan di atas 40 persen juga termasuk lahan kritis yang dapat memicu bencana. 

"Salah satu dampak dari lahan kritis di Cimenyan itu adalah memicu banjir di Bandung Raya. Saat musim hujan terjadi aliran permukaan ditambah sedimentasi yang bermuara ke Sungai Citarum, kemudian saat musim kemarau kita kan kekurangan air," kata Irawan.

Untuk itu pihaknya terus mengedukasi masyarakat agar lahan kritis bisa berkurang, sehingga dampaknya bisa diminimalisir karena selain berdampak pada ekologis, bencana yang ditimbulkan bisa berdampak pada aspek sosial dan ekonomi. 

"Makanya, treatment kami khusus di Cimenyan ialah dengan tanaman buah-buahan. Kami memanfaatkan ruang batas kepemilikan lahan dengan pola jersi atau ngajejer di sisi, jadi batas kepemilikan lahan itu ditanami buah-buahan," ucapnya.(*)

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved