Ramai Fenomena Langit Bulan Kembar, Ini Penjelasan Peneliti BRIN, Ternyata Asteroid
Sempat ramai tentang fenomena bulan kembar baru-baru ini di media sosial hingga muncul berbagai spekulasi di kalangan netizen.
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sempat ramai tentang fenomena bulan kembar baru-baru ini di media sosial hingga muncul berbagai spekulasi di kalangan netizen. Banyak yang mengira jika fenomena itu kejadian astronomis langka memperlihatkan dua bulan di langit secara bersamaan.
Menurut peneliti utama BRIN, Thomas Djamaluddin, istilah bulan kembar sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Katanya, satelit alami bumi, yang dikenal sebagai bulan adalah satu-satunya benda langit yang selalu terlihat mengelilingi planet bumi.
"Bulan itu satu-satunya satelit alami bumi yang ukurannya besar dan terlihat dengan mata telanjang. Tapi, pada periode tertentu itu objek lain, semisal asteroid bisa terperangkap dalam gravitasi bumi dan sementara waktu mengelilingi bumi. Objek inilah disebut sebagai bulan mini atau mini moon," kata Thomas, Senin (30/9/2024).
Thomas menambahkan, salah satu fenomena yang menarik perhatian para astronom ialah asteroid dengan kode 2024 PT5. Asteroid ini, kata Thomas, akan tertangkap gravitasi bumi dari 29 September sampai 25 November 2024.
Baca juga: 6 Fenomena Langit di Bulan September 2024, Ada Gerhana Bulan Parsial, Bisa Disaksikan di Indonesia?
"Jadi, asteroid ini bukanlah bulan kedua melainkan terjebak sementara dalam orbit bumi. Beberapa media menyebutnya bulan ini. Asteroid 2024 PT5 berukuran sangat kecil, hanya 10 meter. Sehingga tak mungkin terlihat seperti bulan purnama yang dilihat di langit. Orbitnya tak berbentuk lingkaran sempurna dan hanya sekali mengelilingi bumi sebelum akhirnya lepas kembali ke orbit asalnya mengelilingi matahari," katanya.
Selain itu, Thomas mengatakan, asteroid tersebut tak menimbulkan ancaman bagi bumi lantaran ukurannya kecil. Bahkan, jika memasuki atmosfer bumi, dia akan terbakar dan kemungkinan sisanya jatuh di wilayah tanpa penduduk. Asteroid itu sering terdeteksi dan tak berbahaya.
"Asteroid semacam itu pernah jatuh di perairan Bone, Sulawesi pada 2009. Tapi, karena orbitnya terjenak di gravitasi bumi untuk sementara waktu, dia dianggap menarik untuk diamati oleh para astronom," ujarnya.
Asteroid 2024 PT5 tak bisa diamati mata telanjang. Kata Thomas, asteroid tersebut terlalu redup dan kecil untuk bisa dilihat tanpa bantuan alat khusus.
"Kami butuh teleskop yang cukup besar untuk dapat melihat asteroid itu. Observatorium dengan teleskop canggih di dunia saat ini sudah bersiap mengamati pergerakan asteroid tersebut. Saya menyarankan supaya masyarakat tak perlu khawatir dengan fenomena ini. Mari semua pihak melihatnya sebagai kesempatan untuk memperkaya pengetahuan tentang objek-objek kecil di tata surya," katanya.(*)
| Fenomena Sapu Koin, Mas Jun: Bantuan Tunai Tak Selesaikan Masalah, Masyarakat Butuh Lapangan Kerja |
|
|---|
| Asal Usul Fenomena Penyapu Koin di Subang dan Indramayu, dari Tradisi Jadi Faktor Ekonomi |
|
|---|
| Fenomena Unik Pantura: Burung-burung Peliharaan Ikut Terjang Kepadatan Arus Mudik di Atas Motor |
|
|---|
| BREAKING NEWS Hujan Es Guyur Sejumlah Desa di Maleber Kuningan, Ini Penjelasan BPBD |
|
|---|
| Fenomena Langit Gerhana Bulan Total Terjadi Besok 3 Maret 2026, Bisa Disaksikan di Jawa Barat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-bulan-terlihat-setengah-lingkaran.jpg)