Tahun Ini 71 Penderita DBD di Jabar Meninggal Dunia, Ini Kabupaten dengan Jumlah Kematian Tertinggi

Vini mengatakan DBD terdiri atas dua siklus, yakni lima tahunan dan dua tahunan. Fenomena saat ini menurutnya merupakan siklus dua tahunan.

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Vini Adiani Dewi mengatakan kasus DBD tertinggi terjadi di Kota Bogor, yakni 848 kasus, disusul Kabupaten Bandung Barat 840 kasus dan Kabupaten Subang 691 kasus. 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mencatat, sejak Januari hingga awal Maret 2024, penderita demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti di Jabar telah menyentuh angka 7.543 kasus di 27 kota/kabupaten.

Dari angka itu, sebanyak 71 orang di antaranya meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Vini Adiani Dewi mengatakan kasus DBD tertinggi terjadi di Kota Bogor, yakni 848 kasus, disusul Kabupaten Bandung Barat 840 kasus dan Kabupaten Subang 691 kasus.

Kasus kematian tertinggi terjadi di Subang sebanyak 9 kematian, Kabupaten Cianjur 6 kematian, dan Kabupaten Bandung Barat 6 kematian.

"Ada perubahan La Nina ke El Nino. Ketika perubahan iklim dari panas ke hujan, lalu hujan ke panas, maka kasus DBD akan meningkat karena banyak genangan air. Biasanya DBD ini terjadi di Januari, Februari, Maret, April. Lalu turun di Juli, Agustus, dan September," ujar Vini dalam acara Bewara Jawa Barat (Beja), di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (8/3/2024).

Vini mengatakan DBD terdiri atas dua siklus, yakni lima tahunan dan dua tahunan. Fenomena yang terjadi saat ini menurutnya merupakan siklus dua tahunan.

Penyakit akibat virus dengue ini, kata dia, hanya dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat di lingkungan masing-masing.

Karena itu, dibutuhkan kepedulian bersama dari masyarakat untuk menekan angka terjangkit dari DBD.

"DBD kalau enggak ada nyamuk Aedes aegypti enggak akan menular. Tidur bersama enggak akan menular, tapi kalau nyamuk DBD menggigit yang sakit, itu menularkan."

"Logikanya karena ada peningkatan perindukan nyamuk. Lingkungan yang mendukung nyamuk berkembang biak lebih cepat," ucapnya.

Sebagai upaya mitigasi, Dinkes Jabar pada Desember 2023, kata dia, telah menyebarkan surat edaran ke 27 kabupaten/kota, guna mengingatkan kembali kepada masyarakat melalui Dinkes kota/kabupaten untuk melakukan pencegahan.

"Ini penyakit lingkungan. Kita sudah melakukan updating keilmuan, diingatkan kembali bagaimana deteksi dini, penanganan dan tanda bahaya."

"Kewaspadaan terhadap DBD harus diingatkan terus-menerus," katanya.

Harapannya, melalui edukasi, sosialisasi secara berkala mampu meningkatkan sikap awas masyarakat terhadap potensi munculnya nyamuk DBD di lingkungan sekitar, agar tidak lagi jatuh korban. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved