Dinkes Kota Bandung Pastikan Program Nyamuk Wolbachia Aman

Pemerintah Kota Bandung sedang mencoba mengimplementasikan inovasi program nyamuk wolbachia di Kecamatan Ujungberung untuk menekan kasus DBD.

Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Ravianto
Melinda Gates/ Facebook
Melinda Gates melihat cara kerja bakteri Wolbachia lewat mikroskop 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemerintah Kota Bandung sedang mencoba mengimplementasikan inovasi program nyamuk wolbachia di Kecamatan Ujungberung untuk menekan kasus DBD.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Anhar Hadian mengatakan program nyamuk wolbachia ini diharapkan akan menjadi salah satu upaya menekan kasus demam berdarah dengue atau DBD di Kota Bandung.

Anhar menilai, program nyamuk wolbachia terbukti efektif menurunkan tingkat DBD di beberapa wilayah. Kota pertama yang mengimplementasikan inovasi ini adalah Yogyakarta. Dari penelitian dan implementasi wolbachia di sana, kasus DBD bisa turun sampai 70 persen.

"Kami bersama dengan Kemenkes, UGM, dan pihak terkait evaluasi terkait program nyamuk wolbachia. Peneliti dari UGM, Prof. Adi Utari yang meneliti terkait nyamuk wolbachia sejak 12 tahun lalu. Kemudian diujicobakan dan diimplementasikan di dua kota di Yogyakarta ternyata tingkat keberhasilannya luar biasa tingkat DBD-nya turun 70 persen, permintaan foging di masyarakat turun 84 persen," kata Anhar, Sabtu (26/11/2023).

Lebih lanjut, Anhar memastikan, Kemenkes telah membentuk tim analisis resiko dan hasilnya dinyatakan aman dan berhasil. Dia meminta masyarakat tidak perlu khawatir karena program nyamuk wolbachia ini telah teruji. Dari hasil analisis, resiko yang dilakukan, program ini terbukti aman sampai 30 tahun mendatang.

"Kemenkes juga membentuk tim analisis resiko yang digawangi 24 profesor dari berbagai universitas dan berbagai keilmuan, hasilnya program nyamuk wolbachia dinyatakan aman dan telah diterapkan di 14 negara," ujarnya.

Analisis resiko yang dilakukan Prof. Damayanti Bukhori beserta Kemenkes menyebutkan sampai 30 tahun kemudian program ini aman. 

"Kami berkeyakinan program nyamuk wolbachia ini aman dan di harapankan menurunkan kasus DBD," katanya.

Nantinya, program ini kata Anhar akan melewati beberapa fase, yakni fase penyebaran nyamuk berlangsung selama enam bulan, lalu fase dampaknya sekitar satu sampai dua tahun kemudian.

Implementasi wolbachia ini bukan berarti menggantikan seluruh upaya pencegahan DBD yang ada. Langkah-langkah sebelumnya akan tetap dijalankan, seperti 3M (menguras, menutup, dan mengubur), fogging sesuai indikasi, dan Gerakan Satu Rumah Satu Juru Jumantik.

"Kalau memang ini bisa diterapkan secara merata, harapannya angka kasus bisa turun karena virus dengue sudah tidak ada. Lalu, fogging juga bisa berkurang, sehingga dananya bisa dialihkan ke hal lain yang lebih penting," katanya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengimbau masyarakat untuk tidak mudah mempercayai sejumlah berita hoaks terkait wolbachia yang banyak beredar di dunia maya.

"Kemenkes sudah melakukan ini (program nyamuk ber-wolbachia) dan masuk ke dalam strategi nasional berdasarkan kajian, rekomendasi WHO dan juga benchmark negara lainnya," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Maxi Rein Rondonuwu dalam taklimat media tentang Wolbachia yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat lalu.

Maxi menilai di era yang terbuka ini, kemungkinan adanya hoaks terkait berbagai hal termasuk kesehatan sangat mudah ditemukan. Untuk itu, Kemenkes terus melakukan upaya dalam memberikan informasi yang baik, tidak hanya dari Kemenkes, namun juga sejumlah pakar dan peneliti. (*)

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved