Lansia dan Risiko Jatuh
Lanjut usia merupakan seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun lebih.Lanjut usia merupakan bagian perkembangan lanjut dari peristiwa kehidupan
Oleh : Lina Safarina
TRIBUNJABAR.ID,- Lanjut usia merupakan seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun lebih.Lanjut usia merupakan bagian perkembangan lanjut dari suatu peristiwa kehidupan yang dibuktikan dengan adanya penurunan kemampuan fungsi tubuh untuk menyesuaikan diri dengan ketegangan fisiologis dan juga ketegangan lingkungan. Lanjut usia mengalami suatu proses alamiah yang berkaitan perubahan usia seseorang dimana semakin bertambah usia seseorang maka semakin berkurang juga daya guna organ tubuh yang mempunyai tugas-tugas tertentu, hal ini dinamakan proses menua (aging process). Proses menua merupakan proses alamiah dimana seseorang telah melewati tiga tahap kehidupan yaitu anak-anak, dewasa dan lanjut usia dimana proses kehidupan ditandai dengan melemahnya kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan tekanan lingkungan. Menua merupakan suatu proses dalam tingkatan masa kehidupan dimana terjadinya penurunan dalam berbagai fungsi tubuh dan berkurangnya kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan tubuh (homeostasis).
World Health Organization (WHO) memperkirakan jumlah lansia akan terus bertambah dan pada tahun 2050 yaitu mencapai hampir 2,1 miliar lansia diseluruh dunia. Sejak tahun 2021 Indonesia sudah memasuki susunan penduduk tua (ageing population), dimana persentase penduduk lansia mencapai lebihdari 10 persen.Data dari Badan Pusat Statistik (BPS)jumlah penduduk lanjut usia meningkat dari 18 juta orang (7,6 persen) pada tahun 2010 menjadi 27 juta orang (10 persen) pada tahun 2020. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 40 juta orang(13,8 persen) pada tahun 2035.
Menjadi tua biasanya beriringan dengan timbulnya masalah kesehatan antara lain : gizi buruk, gangguan keseimbangan, kebingungan mendadak dan lain-lain. Selain itu, tekanan darah tinggi, gangguan pendengaran dan penglihatan, demensia, danosteoporosis merupakan penyakit yang umum terjadi pada lansia . Perubahan fisik pada lanjut usia akibat penurunan fungsi organ tubuh memberikan efek degeneratif terhadap kesehatan dan aktivitas sehari-hari lansia. Gangguan kesehatan yang dialami antara lain diabetes, hipertensi, penyakit pernafasan, gastritis, rheumatoid arthritis, melemahnya daya tahan tubuh, penglihatan buruk, gangguan pendengaran dan masalah psikososial, selain itu dapet terjadi masalah jatuh.
Jatuh didefinisikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia Sebagai perpindahan tubuh ke bawah, ke tanah, lantai atau benda lain, atau tingkat yang lebih rendah secara tiba-tiba, tidak terkendali tidak disengaja. Risiko jatuh adalah seseorang yang berisiko mengalami kerusakan fisik dan gangguan kesehatan akibat terjatuh. Lansia dapat jatuh dimana saja, bahkan di rumah. Banyak faktor yang menyebabkan lansia jatuh di rumah, terutama berkaitan dengan kondisi lingkungan rumah seperti penerangan yang kurang baik, lantai yang licin dan tidak rata, tidak ada tempat berpegangan atau tempat berpegangan yang kurang kuat, alat rumah tangga yang tidak tertata yang menyebabkan tersandung. Data kejadian jatuh lansia yang tinggal di komunitas 30 persen dan yang tinggal di panti lansia 32,7 % setiap tahunnya.
Dampak jatuh pada lansia dapat menimbulkan berbagai luka, kerusakan fisik dan dapat berpengaruh juga pada kondisi mental sosial. Cedera tubuh akibat jatuh antara lain patah sendi pinggul, patah lengan atas, dan patah pergelangan tangan. Sedangkan implikasi psikologisnya adalah lansia takut atau trauma akan jatuh lagi, kehilangan rasa percaya diri dan membatasi mereka dalam pelaksanaan aktivitas sehari-hari, pada beberapa kondisi akan berpengaruh padakualitas hidup lansia.
Faktor risiko jatuh pada lansia dibagi menjadi dua bagian, yang pertama didasarkan pada faktor internal antara lain : riwayat penyakit hypertensi atau darah tinggi, gangguan penglihatan yang menyebabkan penurutnan fungsi penglihatan misalnya katarak dan glukoma, gangguan sistem anggota gerak yang terjadi karena penyakit pada otot, tendon, sendi, tulang belakang, saraf tepi dan sistem pembuluh darah, yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan akut atau bertahap dan kronis yang pada akhirnya menggangggu sistem pergerakan lansia. Penyakit lainnya misalnya jantung, stroke, diabetes, rheumatoid arthritis, osteoporosis dan lain-lain.
Faktor intrinstik lain selain riwayat penyakit adalah usia, risiko jatuh meningkat seiring bertambahnya usia, dengan kejadian 30 % pada usia di atas 65 tahun dan 50 % pada usia di atas 80 tahun. bahwa setelah usia 75 tahun tingkat jatuh meningkat hingga 50 % per tahun seiring dengan peningkatan cedera dan kematian.Selain itu faktor intrinstik risiko jatuh adalah jenis kelamin dimana wanita yang lebih tua memiliki risiko jatuh yang lebih tinggi daripada pria yang lebih tua karena menopause. Setelah menopause, terjadi perubahan hormon estrogen yang dapat menyebabkan osteoporosis. Osteoporosis dapat menyebabkan tulang keropos, akhirnya tulang yang lemah dapat menyebabkan jatuh pada wanita yang lebih tua.
Yang kedua berdasarkan faktor ekternal, faktor tersebut adalah faktor lingkungan, antara lain penerangan/pencahayaan yang kurang, lantai licin, toilet jauh dari kamar, tempat duduk atau tempat tidur terlalu rendah atau tinggi. Selain faktor lingkungan faktor ekstristik lain adalah penggunaan alat bantu berjalanyang tidak tepat, efek konsumsi obat tertentu misalnya mengantuk dan pusing.
Perlu upaya dalam mengatasi risiko jatuh lansia, diperlukan pengetahuan dan keterampilan baik lansia maupun orang terdekat seperti keluarga, anak, cucu atau anggota keluarga lainnya. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang terkontrol dengan baik maka angka kejadian jatuh pada lansia dapat diminimalkan . Pemahaman lansia dan keluarga tentang faktor risiko jatuh, penyebab jatuh, komplikasi pencegahan jatuh serta modifikasi lingkungan rumah sangat diperlukan agar lansia tetap aman dan terhindar dari masalah kesehatan yang diakibatkan kurangnya pengetahuan dan pemahaman serta modifikasi lingkungan.
Perlu dilakukan identifikasi risiko jatuh secara berkala baik oleh lansia sendiri maupun keluarga, pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk mengetahui status kesehatan lansia terutama masalah kesehatan yang berpengaruh pada kejadian jatuh, selain itu perlu memastikan keamanan rumah misalnya penerangan rumah harus cukup tetapi tidak menyilaukan, lantai rumah datar dan tidak licin, peralatan rumah tangga yang sudah tidak aman (lapuk, dapat bergeser sendiri) sebaiknya diganti, kamar mandi tidak licin dan diberi pegangan pada dindingnya, penggunaan kloset duduk dianjurkan dan diberi pegangan di dinding, selain itu perhatikan efek samping pemakaian obat misalnya mengantuk atau pusing, pemakaian alat bantu jalan yang benar dan memakai alas kaki yang tidak licin. Perlu juga upaya latihan dengan melakukan latihan keseimbangan atau Balance exercise,yaitu latihan khusus untuk membantulansiadalammeningkatkankeseimbangantubuhnyamelalui serangkaian gerakan. Latihan keseimbangan untuk lansia inimerupakan gerakan yang dimodifikasi untuk meningkatkan keseimbangan dan menurunkan resiko jatuh pada lansia.
Lansia, keluarga dan masyarakat perlu meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan dan kesejahteraan lansia termasuk dalam hal mencegah resiko jatuh. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan pencegahan resiko jatuh akan mengurangi terjadinya resiko jatuh itu sendiri, Semoga lansia di Indonesia menjadi lansia yang SMART (sehat, mandiri, aktif, produktif dan bermartabat).
*Penulis adalah mahasiswa S3 FK UNPAD dan Dosen Fitkes Unjani
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Lina-Safarina.jpg)