Imbas Kemarau Panjang dan Serangan Hama, Petani Cabai di Lembang Gagal Panen
Seorang petani, Gunawan (42) mengatakan, selama musim kemarau ini tanaman cabainya diserang penyakit patek dan kekurangan pasokan air.
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Kemal Setia Permana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Sejumlah petani cabai di sentra pertanian wilayah Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mengalami gagal panen akibat tanamannya terdampak kemarau panjang.
Seperti yang dialami patani di Kampung Pasir Angling, Desa Suntenjaya Lembang, tanaman cabai rawit mereka tumbuh tidak normal selama musim kemarau tahun ini, bahkan kondisi daunnya pun keriting dan menguning.
Seorang petani, Gunawan (42) mengatakan, selama musim kemarau ini tanaman cabainya diserang penyakit patek dan kekurangan pasokan air, sehingga cabai yang siap untuk dipanen, kondisinya malah jadi membusuk.
"Jadi selama musim kemarau ini, tanaman cabai di sini kekurangan air dan ditambah serangan hama, terutama patek yang sulit dikendalikan," ujar Gunawan di lahan pertaniannya, Selasa (7/11/2023).
Atas hal tersebut, harga cabai rawit dari tingkat petani mengalami kenaikan yang cukup signifikan sehingga kondisi tersebut juga berimbas terhadap mahalnya harga cabai di pasar tradisional.
"Sekarang cabai sedang mahal, satu kilogram dijual antara Rp 70 ribu. Dalam kondisi normal, saya bisa memanen cabai hingga 1 kuintal dari 2 ribu pohon yang ditanam," kata Gunawan.
Namun selama musim kemarau, kata dia, hasil panennya menyusut hingga 50 persen lebih atau hanya sekitar 20 kilogram, sehingga bagi sebagian petani tidak serta merta bahagia dengan mahalnya harga cabai tersebut.
"Cabai mahal tidak seperti yang dibayangkan konsumen, harus lihat kondisi lapangan, mengapa jadi mahal karena stok dari kebunnya juga berkurang," ucapnya.
Petani cabai lainnya, Siti (48) mengatakan, selama musim kemarau ia juga mengalami gagal panen karena pertumbuhan tanaman cabai miliknya tidak maksimal lantaran kekurangan air.
"Kondisi itu sangat berpengaruh sehingga buahnya enggak terlalu lebat, jadi hasil panennya tidak banyak," ujar Siti.
Selain cabai, hasil panen tanaman tomat di wilayahnya juga mengalami penurunan karena kondisinya busuk, sehingga harga tomat menjadi turun hingga Rp 2 ribu perkilogram.
"Kalau untuk harga burkoli dari petani melonjak hingga dihargai Rp18 ribu perkilogram. Harga tomat sedang turun, yang sekarang sedang mahal cabai rawit dan burkoli," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Petani-asal-Lembang-menunjukan-tanaman-cabai-yang-gagal-panen.jpg)