Rabu, 15 April 2026

Konsumen yang Beli Beras Langsung ke Penggilingan Meningkat, Demi Mendapatkan Selisih Harga

Penggilingan beras di Kabupaten Majalengka mempunyai siasat tersendiri dalam mengatasi kenaikan harga gabah.

Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Januar Pribadi Hamel
Tribuncirebon.com/Ahmada Imam Baehaqi
Sejumlah pekerja saat menata beras yang baru selesai digiling di PB Sri Rahayu, Jalan Pemuda, Kelurahan Cijati, Kecamatan/Kabupaten Majalengka, Jumat (22/9/2023). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNJABAR.ID, MAJALENGKA - Penggilingan beras di Kabupaten Majalengka mempunyai siasat tersendiri dalam mengatasi kenaikan harga gabah.

Pemilik Penggilingan Beras (PB) Sri Rahayu, Dede Koswara (48), mengakui sengaja menurunkan kapasitas produksi sejak Agustus 2023 untuk menekan biaya operasionalnya.

Menurut dia, kapasitas produksi di PB Sri Rahayu yang mencapai 40 ton - 50 ton per hari tersebut juga harus diturunkan hingga menjadi 20 ton - 30 ton per harinya.

"Kalau dipaksakan hingga kapasitas produksi maksimal dikhawatirkan enggak menutup (biaya produksi)," kata Dede Koswara saat ditemui di PB Sri Rahayu, Jalan Pemuda, Kelurahan Cijati, Kecamatan/Kabupaten Majalengka, Jumat (22/9/2023).

Bahkan, pihaknya juga sengaja membatasi pengiriman beras menjadi dua hingga tiga truk per hari dari sebelmnya mencapai empat hingga lima truk perhari.

Ia mengatakan, setiap truk berisi 10 ton beras tersebut biasanya dikirimkan ke sejumlah daerah di Jawa Barat, di antaranya, Bandung, Bogor, Sukabumi, dan lainnya.

Dede mencatat, saat ini persediaan gabah kering di PB Sri Rahayu mencapai 200 ton yang didatangkan dari Ciamis, Banjar, Pangandaran, bahkan hingga Cilacap, Jawa Tengah.

"Apabila stoknya habis, kemungkinan penggilingan ini juga tidak beroperasi lagi, karena harga gabah yang terlalu tinggi membuat biaya produksi juga membengkak," ujar Dede Koswara.

Ia menyampaikan, dalam momen bergejolaknya harga beras di pasaran seperti sekarang pun memunculkan fenomena baru, yakni meningkatnya jumlah pembeli di penggilingan beras.

Pasalnya, para pembeli menilai terdapat selisih harga yang cukup signifikan ketika membeli langsung di penggilingan beras dibanding membelinya secara eceran di pasar tradisional.

"Pembeli yang datang langsung ke penggilingan meningkat 20 persen - 25 persen, rata-rata mereka dari Majalengka, tapi sesekali ada yang berasal dari luar daerah juga," kata Dede Koswara. (*)

Artikel TribunJabar.id lainnya bisa disimak di GoogleNews.

Sumber: Tribun Cirebon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved