Rabu, 8 April 2026

Metode DSA untuk Menolong Pasien Stroke Bukan Cuci Otak, Begini Cara Kerjanya 

Digital Subtraction Angiography (DSA) bisa dipilih penderita stroke untuk mengidentifikasi di mana letak gangguan yang dialaminya.

Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Giri
Tribun Jabar
Dokter Neurologi Saraf dan Otak, Intervensi Mayapada Hospital, dr. Conrad Pasaribu, SpN (K), FINS.  

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Digital Subtraction Angiography (DSA) bisa dipilih penderita stroke untuk mengidentifikasi di mana letak gangguan yang dialaminya.

Menurut Dokter Neurologi Saraf dan Otak, Intervensi Mayapada Hospital, dr. Conrad Pasaribu, SpN (K), FINS, DSA adalah teknik pemeriksaan radiologi menggunakan dengan menggunakan alat rontgen, mesin sinar X, untuk mendapatkan gambaran pembuluh darah secara detail.

Pemeriksaan dengan DSA biasanya digunakan untuk mendiagnosis beberapa penyakit, seperti stroke, tumor, hingga penyakit pada pembuluh darah.

Saat melakukan pemeriksaan DSA, Condrad menjelaskan gambarannya itu berupa video realtime.

"Gambaran jejaknya di fase ateri, kapiler, dan vena sehingga kita akan mendapatkan suatu proses flow di otak yang utuh," ujarnya saat wawancara dalam program Tribun Health.

Baca juga: Pasien Tumor Otak Sukses Jalani Operasi Melalui Operasi Minimal Invasif di Mayapada Hospital Bandung

Sebelumnya, pemeriksaan DSA juga sempat disebut sebagai 'cuci otak'.

Condrad pun menjelaskan angiografi ini sebagai diagnostik.

"Misalnya ada yang datang karena sakit kepala hebat atau stroke, ada pendarahan di otak maka akan dilihat di MRI atau scan. Jika ingin mendapatkan pemeriksaan lebih lengkap hasilnya menggunakan angiografi," tuturny.

Condrad pun menegaskan angiografi ini dibuat untuk mendiagnosis, bukan cuci otak.

Dengan adanya kemajuan teknologi saat ini, masyarakat pun jadi tertolong karena pasien yang mengalami stroke bisa diobati dengan syarat dan ketentuan.
 
Melalui diagnostik ini bisa menggambarkan pembuluh darah dan langkah selanjutnya adalah dilakukan intervensi menggunakan DSA sebagai  sarana  untuk tindakan berikutnya.

Di dalam proses tindakan ini, Condrad pun mengatakan selalu berhati-hati untuk meminimalisasi terjadinya risiko.

"Cara meminimalisasinya yaitu dengan memberikan obat steroid untuk mengurangi risiko alergi, gunakan desinfektan untuk kurangi infeksi. Selama angiografi harus dilihat jangan sampai ada gelembung udara masuk dari cairan bisa masuk ke otak. Kita harus hati-hati, tapi dalam tindakan itu namanya risiko pasti selalu ada," ujarnya.

Baca juga: Ini Dia Sosok Grace Tahir, Direktur Mayapada Hospital yang Diperiksa KPK, Kekayaannya Fantastis!

Prosedur ini dilakukan selama 20 hingga 30 menit tergantung usia.

Jika pada pasien orang tua dan memiliki penyakit lain akan memakan waktu lebih.

Conrad mengatakan, pemeriksaan dengan DSA ini efektif, realtime, dan hasilnya dapat dipercaya sehingga pasien neurologi di otak akan mendapatkan gambaran pasti mulai dari fase arteri hingga vena. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved