Selasa, 28 April 2026

Prakiraan Cuaca

Cuaca Ekstrem Masih Ancam Majalengka hingga April, Musim Kemarau Baru Datang di Bulan Mei-Juni

Prakirawan BMKG Kertajati Majalengka, Ahmad Faa Izyin, mengatakan, Majalengka baru akan menerima musim kemarau pada bulan Mei dan Juni 2023.

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Hermawan Aksan
Tribun Cirebon/Eki Yulianto
Prakirawan BMKG Kertajati Majalengka, Ahmad Faa Izyin. Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, belum akan kedatangan musim kemarau hingga April 2023. 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, MAJALENGKA - Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, belum akan kedatangan musim kemarau hingga April 2023.

Saat ini diperkirakan masih berada di akhir musim hujan atau pancaroba.

Hal itu membuat warga tetap diminta waspada untuk menghadapi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dengan durasi pendek disertai potensi angin kencang dan petir.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kertajati Majalengka, Faa Izyin, mengatakan, Majalengka baru akan menerima musim kemarau pada bulan Mei dan Juni 2023.

Baca juga: Polisi Buru Perampok Bersenjata Tajam di Minimarket Majalengka

Dimulai dari wilayah Majalengka bagian tengah dan selatan, perkiraan musim kemarau akan lebih dulu datang di wilayah tersebut pada bulan Mei atau Mei dasarian I.

Wilayah Majalengka tengah meliputi Majalengka, Panyingkiran, Cigasong dan bagian selatan meliputi Cikijing, Malausma, Cingambul, Bantarujeg, dan Lemahsugih.

"Mei dasarian I itu dari tanggal 1 sampai 10," ujar Faiz, sapaan akrabnya, Selasa (14/3/2023).

Majalengka Utara, kata Faiz, termasuk yang paling akhir memasuki kemarau.

Bersamanya adalah Kecamatan Kertajati, Jatitujuh, Ligung, Sumberjaya dan sekitarnya.

"Daerah itu akan mendapatkan musim kemarau pada awal bulan Juni atau Juni dasarian I dari tanggal 1 hingga 10," ucapnya.

Saat ini, kata Faiz, hujan disertai angin kencang dan petir masih akan terjadi.

Bahkan jika hujan deras terjadi, kemungkinan akan berdampak terhadap suhu udara yang lebih dingin dan kelembapan udara mencapai 100 persen.

"Hal ini menyebabkan kondisi suhu lebih dingin dan kelembaban udara mencapai maksimal 100 persen, serta didukung kondisi angin yang tenang saat malam sampai pagi hari. Maka terjadilah kabut," jelas dia. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved