Viral di Media Sosial

Viral Pasien Radang Otak Diduga Ditolak RS Banyumas karena Pakai BPJS, Bayar Langsung Baru Ditangani

Kisah seorang keluarga pasien radang otak pengguna BPJS viral setelah adiknya mendapatkan perlakuan yang diduga tak wajar dari rumah sakit di Banyumas

Penulis: Rheina Sukmawati | Editor: Rheina Sukmawati
Twitter @meysetiawati
Tangkap layar unggahan akun @meysetiawati yang menceritakan kisahnya dalam merawat adiknya dan diduga mendapat pelayanan kurang baik di beberapa rumah sakit di Banyumas, Kamis (9/3/2023). Cerita tersebut viral di media sosial. 

TRIBUNJABAR.ID - Kisah seorang keluarga pasien radang otak pengguna BPJS viral di media sosial setelah adiknya mendapatkan perlakuan yang diduga tak wajar dari rumah sakit di Banyumas, Jawa Tengah.

Kisah tersebut dibagikan oleh akun @meysetiawati di Twitter pada Rabu (8/3/2023).

Dalam thread yang dibuatnya itu, Mei menceritakan perjuangan mengobati adiknya yang berinisial GR (18) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) hingga Rumah Sakit swasta wilayah Banyumas.

GR merupakan warga Ajibarang, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas.

Mei bercerita bahwa pada Jumat (10/2/2023), GR mengeluhkan sakit setelah kepulangannya dari Purwokerto.

Keesokan harinya, suami Mei mengantar GR ke dokter umum Faskes 1 untuk berobat dengan keluhan demam, kekurangan selera makan, lemas, dan mudah lelah.

Setelah tiga hari keadaannya tak membaik, keluarga pun membawanya ke dokter umum lain yang juga sama-sama tidak memberikan dampak signifikan.

Baca juga: Kasus Meninggalnya Kurnaesih, Dirut RSUD Subang Bersikeras Tak Tolak Pasien, Tekankan ICU Penuh

Pada Kamis (16/2/2023), Mei mendapatkan kabar dari omnya bahwa GR terus menerus mengeluarkan air liur dan tenggorokannya susah menelan.

GR sempat diberikan sate kambing karena ayahnya menganggap bahwa GR mengidap darah rendah.

Karena kondisinya yang tak kunjung membaik, keluarga membuat GR berobat ke RSUD A.

GR mendapatkan penanganan di IGD dengan biaya yang ditanggung oleh BPJS kelas III.

Setelah dari IGD, GR dipindahkan ke ruang rawat inap namun kondisi kesadarannya semakin menurun.

Atas saran dokter, GR pun dipindahkan ke ICU dan didiagnosa mengalami Encephalitis atau radang otak dengan kondisi koma.

10 hari mendapatkan perawatan di ICU, dokter menyatakan kondisi GR membaik dan bisa kembali dipindahkan ke ruang rawat inap.

Padahal menurut Mei, GR tidak bisa menggerakan tubuhnya kecuali mata dengan napas yang masih tersendat-sendat.

Lima hari di ruang rawat inap, perawat RSUD tersebut mengatakan bahwa GR bisa pulang keesokan harinya.

Hal tersebut membuat Mei dan keluarga bingung, pasalnya ia tidak yakin dengan kondisi yang tengah dialami oleh sang adik.

Keesokan harinya, Mei mendapatkan cara merawat pasien radang otak dari dokter.

Namun Mei tidak yakin karena kondisi adiknya yang masih belum bisa bergerak dan berharap GR masih bisa dirawat di RSUD tersebut agar bisa mendapatkan pantauan medis secara langsung.

Setelah mencoba mengajukan perpanjangan waktu perawatan, pihak RSUD menolak dengan alasan kondisi GR yang sudah dinyatakan membaik.

Pihak keluarga juga sempat mendesak RSUD B untuk membuat rujukan ke RS Margono (faskes III), namun ditolak dengan alasan belum tentu diterima.

Baca juga: Sudah 22 Hari Berlalu, Bupati Subang dan Dirut RSUD Subang Melayat ke Rumah Duka Kurnaesih

Setelah itu, Mey menjelaskan bahwa pihak keluarga mendatangi RS H untuk melanjutkan perawatan GR.

Namun RS H diduga menolak dengan alasan ruang ICU sudah penuh, kemudian RS H bisa menerima apabila keluarga tidak menggunakan BPJS.

Menerima kekecewaan itu, Mei dan keluarga terpaksa harus merawat adiknya di rumah dengan kondisi serba pas-pasan.

Hingga akhirnya keluarga mendapatkan bantuan dari Dinas Sosial Banyumas serta tim relawan yang membawa GR ke RS Margono.

Dari RS Margono, GR dipindahkan ke HCU RS Geriarti Purwokerto sampai akhirnya bisa dipindahkan lagi ke ruang rawat inap.

Saat ditemuhi tim Tribun Network, suami pemilik akun @meysetiawati, Nizar (31) mengkonfirmasi bahwa hal itu dialami oleh keluarganya.

Menurut Nizar, sang istri ingin membagikan kisah memperjuangkan pengobatan adiknya selama ini.

"Ingin menulis cerita itu di twitter lantaran ingin berbagi pengalaman perjuangan keluarganya saja, supaya pasien dapat pelayanan yang baik," katanya saat ditemui dikutip dari TribunMuria.com pada Jumat (10/3/2023).

Meski demikian, pihak Kepala Dinas Kesehatan Banyumas enggan berkomentar saat ditemui oleh wartawan Tribun Network terkait dengan cerita tersebut.

Baca berita Tribunjabar.id lainnya di Google News.

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved