Perjuangan Penjual Dompet Keliling di Sukabumi, Jual Murah Malah Ditawar Lebih Rendah, Untung Kecil

Meskipun menjual dompet, sabuk dan gelang dengan harga murah, ia kerap mendapatkan pembeli yang selalu menawar dengan harga lebih rendah.

Tribun Jabar/ M Rizal Jalaludin
Eman Sulaeman, pria berusia 60 tahun masih terlihat semangat berjualan dompet dan sabuk keliling 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Kabupaten Sukabumi M Rizal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Di usianya yang sudah kepala enam, Eman Sulaeman (60), asal Kampung Ubrug, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat masih terlihat semangat keliling berjualan.

Eman berjualan dompet kulit, sabuk, dan gelang, setiap hari ia berkeliling dari kampung ke kampung, wilayah kota ke kota yang ada di ibukota Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Ia juga kerap berjualan di seputaran pantai.

Eman sudah 30 tahun jadi pedagang keliling, meskipun persaingan di pasar moderen begitu ketat, pria kelahiran Garut itu tetap semangat menjajakan barang dagangannya.

Baca juga: Aturan Baru, Beli Minyakita Harus Pakai KTP, Pedagang Pasar Indramayu: Kebijakannya Bikin Ribet

"Kalau jualan ini sih sudah 30 tahun, bawa barang dari Garut kalau lagi pulang, kebanyakan sih ngambil barang di Jakarta. Namanya orang dagang keuntungan berapa juga dijalanin karena udah kewajiban usaha, ini barang beli sendiri," ujarnya saat ditemui Tribunjabar.id di Cangehgar, Palabuhanratu, Rabu (8/2/2023).

Suka duka berjualan keliling sering ia alami setiap harinya. Meskipun menjual dompet, sabuk dan gelang dengan harga murah, ia kerap mendapatkan pembeli yang selalu menawar dengan harga lebih rendah.

Meski begitu, ia tetap merajakan sang pembeli dan tetap menjual barangnya meskipun ditawar dengan harga lebih rendah dan keuntungan yang didapat sangat rendah.

"Suka dukanya banyak, ada yang begini ada yang begitu, namanya juga di jalan, masalah suka duka udah gak aneh, nyaci, yang baek, yang kasar, yang begini yang begitu, itu udah makanan bapak, ya itu udah pasti, ada yang nawar udah kepastian, kadang-kadang ada yang nawarnya rendah, sekian-sekian, kadang yang nawar suka dikasih, namanya juga orang beda-beda, kan tidak terlepas dari kedua belah pihak, yang jahat yang baik, siang dan malam," terangnya.

Eman mengaku saat ini suka berkeliling jualan dari Cikakak ke arah Bagbagan dan berkeliling di seputaran Palabuhanratu.

Meskipun penghasilan yang didapat pas-pasan, ia selalu berusaha mencukupkan untuk kebutuhan sehari-hari.

"Alhamdulillah penghasilan dicukupkan untuk makan sehari-hari, bapak keturunan ada 5, yang dua sudah nikah, sekarang tiga masih sekolah. Sehari kadang dapat 200, 300 ribu, batinya 100, 150 bisa cukup buat makan. Sekarang usia 60 tahun, kalau dibilang lelah ya mau gimana lagi ini udah usaha bapak," jelasnya.

Diketehui, Eman menjual dompet dan sabuk mulai dari harga Rp 30 ribu - Rp 100 ribu, tergantung jenis dompet dan sabuknya. Sehari, biasanya terjual 10 sampai 20 dompet atau sabuk.

"Ya kadang-kadang ada yang ngejual 30, 40, ada yang cepe (100 ribu), beda-beda namanya jualan, tergantung rezeki kita, namanya jualan yang beli beda-beda, tergantung kita. Kadang-kadang 10 potong, 20 potong suka habis," ucapnya.

Meskipun sering ditawar dengan harga rendah, Eman tetap semangat berjualan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

"Alhamdulillah masih semangat, dibutuhin, habis mau gimana," lirih Eman.*

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved