Garut Fest 2022

Beragam Fesyen Kulit Akan Hadir di Garut Festival 20202, Ada Sandal Tarumpah dari Kulit Sapi

Beragam Fesyen Kulit Akan Hadir di Garut Festival 20202, Ada Sandal Tarumpah dari Kulit Sapi

Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
nappisah
Aneka Fesyen Kulit dari Sugarindo Leather Goods di Jalan Gagak Lumayung Nomor 1 Kota Garut, Senin (5/12). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Para pelaku usaha, mulai dari kuliner hingga fesyen akan menjajakan produk unggulannya pada Festival Garut 2022 yang diselenggarakan 8-10 Desember 2022 di lapangan Alun-alun Garut

Salah satunya, Sugarindo Leather Goods UMKM Garut dengan produk fesyen handmade  berbahan utama kulit asli yang terseleksi. 

Owner Sugarindo Leather Goods Opik Rachman Nur Taufiq (45) mengatakan, produk yang diproduksinya melalui proses hibrida antara teknologi komputer, mekanik dan manual, dengan menggabungkan keterampilan ahli yang berpengalaman. 

"Berusaha menghasilkan produk simpel, fungsional, nyaman, dan tentunya tahan lama," ujar Opik kepada Tribunjabar, saat ditemui di Jalan Gagak Lumayung Nomor 1 Kota Garut, Senin (5/12).

Produk yang dijual Sugarindo Leather Goods dimulai dari sendal, sepatu, ikat pinggang, dompet, tas, jaket, sarung tangan, dengan pengiriman daerah nusantara. 

"Proses pembuatan paling lama saat ini pada produk jaket, selain itu ada sandal tarumpah pembuatanya lumayan lama karena manual, jika bahan mentah tersedia dalam satu hari hanya bisa menghasilkan satu sampai dua pics," katanya.

Sugarindo Leather Goods salah satu yang tetap memproduksi sandal tarumpah berbahan dasar kulit sapi. 

"Tarumpah itu bukan hanya sekedar produk, di dalamnya ada proses manualisasi yang menggunakan alat yang memang sederhana. Harus memiliki keahlian khusus dalam produksinya," ujar Opik.  

Ia menambahkan, dulu hanya berjualan tarumpah di tokonya, kini Sugarindo Leather Goods memproduksi sandal yang pernah popular pada masanya. 

Di era sekarang, kata ia, orang yang mempunyai keahlian membuat tarumpah semakin berkurang. Di Garut sendiri pengrajin tarumpah kurang dari 10 orang.

"Saya pikir ini tantangan besar untuk kita semua, sebab keahlian itu harus dikembangkan. Sudah terbukti jika dilakukan bisa menjadi ekonomi andalan," ujarnya. 

Opik merasa terkesan ketika orang yang mempunyai keahlian membuat tarumpah meninggal dunia, masyarakat masih dicari produk yang dibuatnya. 

"Rohman salah satu pengrajin tarumpah dari Gagak Lumayung meninggal, tiga kali lebaran masih ada yang menanyakan sandal hasil buatan beliau," katanya. 

Masih dengannya, produk tersebut akan menjadi langka jika tidak ada generasi yang melanjutkan dan masyarakat akan lupa akan adanya sandal tarumpah. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved