Sosok Pendiri Yayasan Rumah Pejuang Kanker Ambu, Penerima Penghargaan dari Gubernur Jawa Barat

Kegigihan Dewi Nurjannah dalam mengelola Yayasan Rumah Pejuang Kanker Ambu mengantarnya mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Barat.

Penulis: Nappisah | Editor: Giri
Tribun Jabar/Nappisah
Dewi Nurjannah memegang penghargaan dari Gubernur Jawa Barat, Senin (28/11/2022). 

Laporan Wartawan TribunJabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kegigihan Dewi Nurjannah dalam mengelola Yayasan Rumah Pejuang Kanker Ambu mengantarnya mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Barat sebagai unsur masyarakat yang berkontribusi terhadap kesehatan di Jawa Barat.

Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Nasional tahun 2022. 

"Sangat bersyukur menerima penghargaan walaupun Ambu sekolah sampai kelas lima SD, tidak tamat pendidikan, tapi bisa satu lingkungan dengan orang hebat," ujar Dewi penuh haru saat ditemui Tribunjabar.id di Yayasan Rumah Pejuang Kanker Ambu, Senin (28/11/2022). 

Sejak kecil, Dewi terbiasa hidup mandiri. Menjadi seorang yatim piatu membuatnya bekerja keras dengan menjadi pembantu sejak belia. 

"Terakhir jadi pembantu di daerah Pajajaran, punya usaha konfeksi. Akhirnya Ambu belajar jahit sampai bisa dan menikah punya anak masih bekerja," katanya. 

Pengalaman yang dia dapat mampu membiasakan dirinya mengurus sesuatu, sampai kini dia mengelola yayasan. 

"Sudah terbiasa hidup susah diterpa problema, jadi, diri sendiri yang menyelesaikan. Sangat bersyukur apa pun yang terjadi dengan Ambu, masalah itu saya pecahkan sendiri dengan baik," ujarnya. 

Alasan Ambu, demikian wanita itu disapa, mendirikan rumah singgah ini berawal dari anak bungsunya yang menderita retinoblastoma atau kanker mata.  

Baca juga: Banyak Kasus Kanker di Jabar yang Belum Ditemukan, Orang Lebih Percaya Mitos daripada Fakta Ilmiah

"Selama dua tahun tiga bulan berjuang untuk anak, merasakan pahit pedihnya kekurangan makanan, obat-obatan serta transportasi," ujarnya. 

Dalam segi finansial, Dewi mengatakan, dia bukan orang yang mampu secara materi. 

"Waktu itu mendapat rujukan dari RS Dr Slamet Garut ke RS Cicendo kemudian dirujuk lagi ke RSHS Kota Bandung untuk melakukan kemoterapi," katanya.

Dia kebingungan sebab kemoterapi harus dilakukan seminggu sekali. 

"Akhirnya memutuskan buat kontrak rumah di Cibarengkok, tapi takdir terbaik, anak Ambu meninggal," ucapnya.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved