Breaking News:

Cirebon Disebut Zona Merah Radikalisme, Sekretaris FKUB: Jadi Tantangan Bagi Mahasiswa

Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cirebon, Mursana, menyebut wilayah Cirebon dicap sebagai zona merah radikalisme.

Tribuncirebon.com/Ahmad Imam Baehaqi
Sekretaris FKUB Kabupaten Cirebon, Mursana, saat menyampaikan materi dalam Workshop Moderasi Beragama di STIKES An Nasher, Kelurahan Kaliwadas, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jumat (17/11/2022). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cirebon, Mursana, menyebut wilayah Cirebon dicap sebagai zona merah radikalisme.

Pasalnya, banyak paham radikal yang berkembang di Cirebon, bahkan pada 2019, Densus 99 Antiteror juga sempat mengamankan sejumlah warga yang diduga terlibat aksi teror.

"Ini menjadi tantangan bagi mahasiswa yang merupakan generasi penerus di masa depan," kata Mursana saat ditemui usai Workshop Moderasi Beragama di STIKES An Nasher, Kelurahan Kaliwadas, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jumat (17/11/2022).

Baca juga: Rumah Sakit di Kabupaten Cirebon Diminta Siap-siap Hadapi Lonjakan Kasus Covid-19

Ia mengatakan, berdasarkan catatannya para terduga teroris tersebut ditangkap di 26 desa yang berada di 17 kecamatan se-Kabupaten Cirebon.

Bahkan, sejak 2012 sejumlah warga Wilayah III Cirebon juga diamankan Densus 99 Antiteror karena diduga terlibat dalam aksi teror di berbagai daerah.

"Hal ini menunjukkan bahwa wilayah Cirebon sangat rawan terhadap penyebaran paham radikal, bahkan hingga terlibat aksi teror," ujar Mursana.

Mursana menyampaikan, moderasi beragama menjadi salah satu solusi untuk menangkal penyebaran paham radikal, khususnya di wilayah Cirebon.

Sebab, moderasi beragama merupakan konsep agar umat beragama mengamalkan ajaran agama yang diantunya secara tidak berlebihan.

Sementara Sekretaris STIKES An Nasher, Abdullah Nashirudin, mengatakan, konsep moderasi beragama telah diterapkan Nabi Muhammad Saw saat hijrah dari Makkah ke Madinah.

Saat itu, Rasullah Saw tidak hanya menyatukan kaum Muhajirin dan Anshor, tetapi semua komponen masyarakat, termasuk kaum Majusi hingga Yahudi yang tinggal di Madinah.

Pihaknya mengakui, sistem sosiokultur yang dibangun Nabi Muhammad Saw di Madinah sangat luar biasa, sehingga hubungan multikultural masyarakatnya sangat kuat.

"Jadi, hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Madinah justru membuka peluang kerja sama antarsemua golongan," kata Abdullah Nashirudin.

Workshop Moderasi Beragama kali ini diselenggarakan Kemenag RI yang bekerja sama dengan Yayasan Lentera Muda Indonesia dan tampak diikuti seratusan mahasiswa STIKES An Nasher.

Ketua Yayasan Lentera Muda Indonesia, Wahyono, menyampaikan, moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama.

Caranya, mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan berlandaskan prinsip adil, berimbang, serta menaati konstitusi sebagai kesepakatan bernegara.

"Melalui workshop ini, kami mencoba memfasilitasi mahasiswa di Cirebon memahami pentingnya mewujudkan moderasi beragama yang berwawasan kebangsaan, religius, dan bersikap moderat dalam beragama," ujar Wahyono.

Artikel TribunJabar.id lainnya bisa disimak di GoogleNews

Sumber: Tribun Cirebon
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved