Wanita di Sukabumi Ini Dibui Lagi, Ngaku Terpaksa Jual Obat Terlarang karena Suami Meninggal Dunia

Seorang perempuan berinisial YT asal Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, masuk penjara lagi setelah sebelumnya dibui selama empat bulan.

Penulis: M RIZAL JALALUDIN | Editor: Giri
Tribun Jabar/M Rizal Jalaludin
Seorang ibu di Kabupaten Sukabumi kembali masuk bui karena menjual obat keras terbatas. Dia dihadirkan di konferensi pers di Mapolres Sukabumi, Kamis (10/11/2022). 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Kabupaten Sukabumi, M Rizal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Seorang perempuan berinisial YT asal Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, masuk penjara lagi setelah sebelumnya dibui selama empat bulan akibat kasus narkoba.

Wanita berusia 50 tahun itu kembali masuk bui akibat melakukan penjualan obat keras terbatas alias obat terlarang.

YT merupakan satu dari 10 tersangka kasus peredaran obat keras terbatas yang berhasil diamankan polisi.

Saat ditanya oleh Kapolres Sukabumi, AKBP Dedy Darmawansyah, YT mengaku kembali melakukan penjualan obat terlarang seusai bebas dari penjara karena suaminya meninggal dunia.

Kali ini, YT belum sempat melakukan penjualan.

Baca juga: Rumah di Sukabumi Diduga Jadi Tempat Jualan Obat Terlarang, Polisi Menggerebek Tapi Ternyata . . .

Dia mengaku baru menerima barang yang dipesan via online untuk dijual kembali.

Saat itulah polisi menangkapnya.

"Saya terpaksa kembali menjual obat dikarenakan suami saya meninggal dunia," kata YT tertunduk di hadapan Kapolres seusai konferensi pers di Mapolres Sukabumi, Jalan Jajaway Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Kamis (10/11/2022).

Dengan terbata-bata, YT memohon maaf kepada masyarakat dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

Baca juga: Ali Minta Uang Simpanan Nasabah Miliaran Rupiah Dikembalikan, Kini Duduki Kantor KSB di Sukabumi

Akibat perbuatannya itu, YT bersama sembilan tersangka kasus obat keras terbatas disangkakan pasal 196 dan atau pasal 197 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Mereka terancam penjara paling lama 10 tahun. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved