Kenali & Cegah Penyakit Jantung Koroner Sejak Dini

Sobat Tribunners, tahukah Anda, penyakit jantung koroner masih menjadi salah satu penyumbang angka kematian tertinggi di masyarakat

dok. Santosa Hospital Bandung Kopo
Dokter Spesialis Jantung Santosa Hospital Bandung Kopo, dr. Melawati Hasan, Sp.JP 

Laporan wartawan Tribunjabar.id, Cipta Permana.

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sobat Tribunners, tahukah Anda, penyakit jantung koroner masih menjadi salah satu penyumbang angka kematian tertinggi di masyarakat.

Bahkan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, angka kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner di Indonesia mencapai 1,25 juta jiwa hingga per tahun 2020.

Sedangkan data terbaru yang di rilis WHO menunjukkan secara global, angka kematian akibat penyakit jantung mencapai 18.6 juta jiwa per tahunnya, dan diperkirakan terus meningkat setiap tahunnya.

Dokter Spesialis Jantung Santosa Hospital Bandung Kopo, dr. Melawati Hasan, Sp.JP
Dokter Spesialis Jantung Santosa Hospital Bandung Kopo, dr. Melawati Hasan, Sp.JP (dok. Santosa Hospital Bandung Kopo)

Dokter Spesialis Jantung Santosa Hospital Bandung Kopo, dr. Melawati Hasan, Sp.JP mengatakan, penyakit jantung koroner adalah salah satu spektrum penyakit yang paling sering mengenai organ jantung, yang disebabkan karena penyempitan pembuluh darah jantung yang utama.

Hal itu menyebabkan berkurangnya asupan darah, oksigen dan nutrisi ke otot jantung.

"Penyakit jantung koroner terbagi dua spektrum. Pertama sindrom koroner akut yang merupakan kondisi darurat medis yang memerlukan penanganan segera. Kedua, penyakit jantung koroner atau angina pektoris yang memerlukan berbagai tahap diagnosis dan stratifikasi risiko untuk penanganannya," ujarnya saat ditemui di Santosa Hospital Bandung Kopo, Senin (7/11/2022).

Menurutnya, Penyakit jantung koroner disebabkan karena penumpukan plak kolesterol (aterosklerosis), dan selanjutnya mengalami inflamasi di pembuluh darah arteri utama jantung yang kemudian menyebabkan penyempitan.

Plak kolesterol ini dapat mulai terjadi pada usia anak-anak, usia remaja atau usia 20-an dan berprogresi seiring dengan usia dan hadirnya beberapa faktor risiko penyebab jantung koroner.

Pada beberapa kasus, plak kolesterol dapat mengalami ruptur atau robek, sehingga terjadi sindroma koroner akut atau serangan jantung.

Faktor risiko penyakit jantung koroner, lanjutnya terbagi dua yaitu, faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi.

"Dalam penyakit jantung koroner, faktor usia dan riwayat turunan merupakan penyebab risiko yang tidak dapat dimodifikasi. Sedangkan, dislipidemia atau kolesterol tinggi, diabetes, hipertensi, obesitas, dan kebiasaan merokok merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi," ucapnya.

dr. Melawati menjelaskan, gejala awal penyakit jantung koroner bisa berupa serangan jantung atau sindroma koroner akut dengan keluhan nyeri dada seperti ditekan, terasa panas, yang dapat menjalar ke leher, lengan kiri atau punggung disertai sesak, keringat dingin, mual atau muntah ataupun berdebar.

Pada tahap awal terjadi plak kolesterol, penderita tidak akan mengalami keluhan.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved