Ekonomi Jabar di 2022 Tumbuh 5,78 Persen, Lebih Baik dari Provinsi Lain

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat ekonomi Jawa Barat triwulan III - 2022 secara q-to-q tumbuh 1,17 persen.

Editor: Ravianto
Tribun Jabar/ Firman Suryaman
Kawasan pusat perbelanjaan Hazet, Kota Tasikmalaya. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat ekonomi Jawa Barat triwulan III - 2022 secara q-to-q tumbuh 1,17 persen. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat perekonomian Jawa Barat Triwulan III - 2022 secara q-to-q tumbuh 1,17 persen.

Namun jika dihitung tahun 2022 yakni dalam triwulan I - triwulan III, perekonomian Jabar tumbuh 5,78 persen. 

"Jika dibandingkan dengan nasional ekonomi Jawa barat secara kumulatif tumbuh 5,4 persen. Artinya sepanjang tahun ini ekonomi Jawa barat masih lebih baik dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia," ujar Samiran, Ketua tim neraca wilayah dan analisis statistik BPS Jawa Barat, dalam keterangan resmi, Selasa (7/11/022).

Beberapa hal yang mendukung ekonomi cukup maju adalah kondisi mobilitas masyarakat tinggi menggerakkan perekonomian yang ada di Jawa barat

"Diantaranya ada ibadah haji dan umroh kemudian pertemuan secara tatap muka seperti sekolah-sekolah yang sudah 100 persen tatap muka. Termasuk juga ekspor Jawa barat mendorong tumbuhnya ekonomi cukup bagus pada triwulan III 2022," ujar Samiran.

Penyumbang utama pertumbuhan c-to-c dari sisi lapangan usaha adalah industri pengolahan, perdagangan dan transportasi, sedangkan dari sisi pengeluaran adalah ekspor dan konsumsi Rumah tangga.

Samiran menambahkan, perekonomian Jawa Barat berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan III-2022 mencapai Rp 616,18 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 400,35 triliun

secara quarter to quarter atau perbandingan antar triwulan, yakni Triwulan III, maka Triwulan III tahun 2022 ini tumbuh 1,17 persen.

Samiran, Ketua tim neraca wilayah dan analisis statistik BPS Jawa Barat mengatakan, (q-to-q) dipengaruhi oleh kondisi musiman. 

"Pada q2 kemarin ada moment Ramadhan dan Idul Fitri biasanya secara pola ekonomi cukup tinggi karena didorong oleh pengeluaran konsumen, sementara pada q3 ini tidak ada moment seperti itu sehingga akan mengalami sedikit perlambatan," ujar Samiran, dalam keterangan resmi, Selasa (7/11/022).

Jika dibandingkan dengan q3 tahun 2021 yang tumbuh 0,78 persen menunjukkan bahwa q3 sekarang relatif lebih baik tumbuhnya sudah di atas satu persen

"Dari sisi lapangan usaha dengan Pertumbuhan cukup tinggi pada Kategori, jasa pendidikan karena memang ada ajaran baru, pengadaan air, pengelolaan sampah, dan administrasi pemerintahan," katanya.

Samiran menambahkan, pertumbuhan tertinggi pada sisi pengeluaran terjadi pada pengeluaran konsumsi pemerintah ekspor dan impor.

"Konsumsi pemerintah memang sudah menjadi pola belanja pemerintah yang biasanya semakin tinggi pada q3 dan q4 sehingga ini mendorong pertumbuhan ekonomi secara (q to q)," ujarnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved