Pakaian Bekas Impor Bikin IKM Kesulitan Bernapas, IPKB Minta Pemerintah Mengawasi

Ikatan Pengusaha Konfeksi Bandung (IPKB) meminta pemerintah mengawasi lebih ketat peredaran pakaian bekas impor. 

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Giri
Dok. Nendi Herdiaman
Nendi Herdiaman, Ikatan Pengusaha Konfeksi Berkarya (IPKB).  

Laporan Kontributor TribunJabar.id Sumedang, Kiki Andriana

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Ikatan Pengusaha Konfeksi Berkarya (IPKB) meminta pemerintah mengawasi lebih ketat peredaran pakaian bekas impor. 

Pakaian yang dijual bebas dengan harga murah itu melemahkan daya jual  produk-produk serupa hasil industri kecil menengah (IKM). 

"Maraknya pakaian bekas membuat masyarakat mencari pakaian tersebut karena harganya yang sangat murah. Ini membuat market IKM terganggu," kata Ketua IPKB, Nendi Herdiaman, kepada TribunJabar.id saat ditemui di Sumedang, Selasa (1/11/2022).

Jika pemerintah mengawasi dan mencegah pakaian bekas impor tidak beredar, maka sama artinya dengan pemerintah melindungi pasar IKM. 

Sebab sejauh ini, IKM kelimpungan harus terus menekan harga pokok produksi (HPP) untuk bisa bersaing dengan pakaian bekas impor. 

Penekanan HPP di antaranya berpengaruh pada ongkos menjahit.

Banyak para penjahit yang kabur dari IKM karena upah yang terus mengecil agar bisa bersaing. 

Baca juga: Rumah Warga Bantuan Polisi di Cimanggung Sumedang Ludes Terbakar, Ini Dugaan Penyebabnya

"Peminat untuk jadi operator jahit sangat minim untuk saat ini ke IKM. Rata-rata yang sudah berpengalaman menjahit lebih memilih ke pabrik garmen yang besar, mungkin dikarenakan pabrik-pabrik besar masih sejahtera soal upah kerja," kata Nendi. 

Namun, dalam kondisi perang dunia dan resesi seperti saat ini, tak sedikit pabrik-pabrik garmen besar yang memangkas jumlah karyawan untuk tetap bertahan. 

Mereka yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali lagi meminta-minta pekerjaan kepada pengusaha konfeksi dan lingkaran IKM lainnya. 

"Maka IKM adalah masa depan yang harus dipertahankan sebab ini menjadi tumpuan banyak orang untuk bertahan hidup. Lindungi pasarnya," kata Nendi. 

Baca juga: NAHAS, Anak Punk di Sumedang Terlindas Truk yang Ditumpanginya, Terpeleset Saat Turun, Meninggal

Nendi mengaku dalam dua tahun ini kesulitan mencari penjahit. Sedangkan untuk membina penjahit baru, akan sulit tanpa sentuhan pemerintah. 

"Pelatihan-pelatihan menjahit sejauh ini hanya disediakan untuk perusahaan-perusahaan besar. Bantulah IKM dengan pelatihan serupa agar ada banyak orang terlatih untuk bekerja di IKM," katanya. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved