Warga Diminta WASPADA, Sejak Januari 2022 Sudah 14 Orang Meninggal Akibat DBD di Sumedang
Catatan Dinkes Sumedang, pada tahun 2020 ada angka kematian 7 orang dengan kasus DBD sebanyak 707 kasus.
Penulis: Kiki Andriana | Editor: Ravianto
TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Ribuan orang di Sumedang telah menjadi korban serangan nyamuk aedes aegypti dan terpapar demam berdarah dengue (DBD).
Di antara para korban gigitan nyambuk itu, notabene orang sembuh kembali. Namun, ada pula yang hingga kehilangan nyawa.
Dinas Kesehatan atau Dinkes Sumedang merilis data jumlah orang terserang DBD.
Di antara mereka, dalam tiga tahun, sebanyak 36 orang hilang nyawa.
"Sebelumnya di Sumedang, pada periode 2017-2019, tidak ada kematian akibat DBD pada catatan kami, baru tahun 2020 ada angka kematian," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendaliaan Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumedang, dr. Renny Kurniawati Anton di Sumedang, Selasa (11/10/2022).
Catatan Dinkes Sumedang, pada tahun 2020 ada angka kematian 7 orang dengan kasus DBD sebanyak 707 kasus.

Pada tahun 2021, angka kematian mencapai 15 orang dengan angka kasus 1331 kasus.
Baik angka kematian dan jumlah kasus meningkat dua kali lipat kasus di tahun sebelumnya.
Tahun 2022, dari perhitungan bulan Januari-September, sudah ada 14 angka kematian dengan jumlah kasus 1648 kasus.
"Kasus kematian beda satu angka dengan tahun lalu," kata Renny.
DBD menjadi ancaman yang nyata tatkala masuk musim penghujan. Untuk menghindari ancaman DBD, ada sejumlah hal yang harus dilakukan. Di antaranya, mengetahui bagaimana gejala DBD berlangsung pada tubuh agar tidak terlambat penanganan medis.
Renny mengatakan DBD merupakan akibat dari infeksi virus yang akut.
"Gejalanya adalah demam dalam waktu 2-7 hari, dan ingat yang paling khas dari BDB adalah manifestasi pendarahan," katanya.(Laporan Kontributor TribunJabar.id Sumedang, Kiki Andriana)