Tragedi Arema vs Persebaya

Kisah ASN Pemkot Batu yang Berupaya Evakuasi Jenazah Korban Tragedi Stadion Kanjuruhan

Tragedi Stadion Kanjuruhan menyisakan duka buat Dadang Indarto, seorang ASN Pemkot Batu. Tragedi Stadion Kanjuruhan pascalaga Arema vs Persebaya.

surya.co.id/Luhur Pambudi
Dadang Indarto (paling kiri) saat bercerita pengalaman yang dia alami saat menyaksikan laga Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan di acara yang digelar KontraS, di kawasan Lapangan Rampal, Blimbing, Kota Malang, Senin (3/10/2022). 

TRIBUNJABAR.ID, SURABAYA - Tragedi Stadion Kanjuruhan menyisakan duka buat Dadang Indarto, seorang ASN Pemkot Batu.

Dadang menjadi satu di antara ribuan suporter yang menyaksikan langsung Tragedi Stadion Kanjuruhan pascalaga Arema vs Persebaya Surabaya, di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022).

Dadang pun menceritakan kisah Tragedi Stadion Kanjuruhan yang langsung dia alami.

Dadang berkisah di hadapan audiens, setenang mungkin, dalam acara yang digelar KontraS, di kawasan Lapangan Rampal, Blimbing, Kota Malang, Senin (3/10/2022).

Baca juga: Tragedi Kanjuruhan, 33 Anak Menjadi Korban Meninggal, Mereka ada yang Masih Berusia 8 Tahun

Padahal, benak hatinya berkecamuk usai melihat kengerian sorak sorai pertandingan sepak bola malam itu, ternyata berubah menjadi laiknya adegan film horor.

Kedua bola matanya, memerah, sepertinya ia berupaya membendung air matanya yang akan tumpah, sekuat tenaga.

Saat itu, ia memulai cerita, bahwa dirinya menonton pertandingan tersebut bersama seseorang temannya, Aremania asal Lampung.

Sebelum peluit panjang tanda laga tersebut buyar, ia bersama temannya itu, memutuskan segera keluar dari tribun 13 melalui tangga.

Tapi ia mengurungkan niatnya. Karena, di tangga menurun tersebut, ternyata puluhan orang sudah tampak berjejal mengantre, keluar dari stadion.

"Pada menit 90 tambahan 3 menit, saya mencoba keluar dari pintu gate 13, di tangga itu, sudah penuh. Sehingga saya memutuskan balik, saya bersama dengan teman saya Aremania Lampung, jauh jauh dari Lampung, dia ke sini hanya untuk menonton Arema. Tapi apa yang terjadi yang ditonton adalah film horor," ujar Dadang sapaannya.

Sesaat kembali ke atas tribun, dan peluit panjang melengking tanda pertandingan berkahir.

Dadang melihat dengan kepala mata sendiri, beberapa suporter, satu per satu memanjat hingga melompati pagar pinggir stadion untuk berlari ke tengah lapangan.

Jika selama ini, aksi para suporter tersebut dinarasikan sebagai bentuk aksi anarkis yang bertujuan menyerang pemain lawan; kesebelasan Persebaya Surabaya dan official timnya, Dadang menegaskan, hal tersebut salah besar.

Sejauh mata memandang, ia melihat bahwa para suporter yang berlarian masuk ke tengah lapangan lalu menuju ke arah pintu masuk ruang ganti pemain, bukan untuk melakukan penyerangan.

Halaman
1234
Sumber: Surya Malang
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved