Breaking News:

Tragedi Arema vs Persebaya

Amnesty International: Polisi Gunakan Kekuatan Berlebih Saat Tragedi Kanjuruhan, Ini Contohnya

Penggunaan gas air mata merupakan contoh kekuatan berlebih kepolisian dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan.

Editor: taufik ismail
SURYAMALANG.COM/Purwanto
Aremania mengevakuasi korban kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022), setelah Arema FC kalah 2-3 dari Persebaya Surabaya. Sebanyak 131 orang dikabarkan meninggal dunia dalam insiden ini. 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Penggunaan kekuatan berlebih dari pihak kepolisian menjadi sorotan Amnesty International terkait tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022).

Akibat tragedi ini, ratusan orang meninggal dunia.

Nurina Savitri dari Amnesty International mengatakan, penggunaan kekuatan berlebihan dari polisi itu, misalnya, dengan menggunakan gas air mata dalam ruangan tertutup.

Padahal, kata Nurina Savitri, semua aturan internasional melarang menggunakannya, apalagi dalam ruangan tertutup dalam stadion seperti kasus tragedi di Stadion Kanjuruhan Sabtu lalu seusai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya pada lanjutan kompetisi Liga 1.

"Pertama, penggunaan kekuatan berlebihan dari polisi. Banyak narasi kemudian menyebut itu kesalahan suporter. Kita harus kritis menyikapi percakapan ini. Karena kalau memang betul tudingan (suporter salah) itu, kenapa baru sekarang? kenapa korban banyak jatuh?" katanya dalam diskusi LBH Jakarta, dikutip dari YouTube Public Virtue hari ini, Rabu (5/10/2022). 

"Ada sebuah fenomena mengarah disinformasi soal jumlah korban. Versi suporter dan relawan di hari pertama tragedi, ada yang 200 dan lalu diralat dari kepolisian dari 125. Kita semua harus kritis, harus ditanyakan ke petinggi negara," ujarnya. 

Lantas ia menjelaskan soal kekuatan penggunaan kekuatan berlebihan dari kepolisian.

Ini dilihat dari gas air mata yang ditembakkan ke arah ruang tertutup yang dilarang dalam berbagai regulasi. 

"Penggunaan kekuatan berlebihan itu misalnya terlihat dalam  gas air mata digunakan Stadion Kanjuruhan. Aturan FIFA jelas melarang. Protap kepolisian juga jelas, itu untuk mengendalikan massa," kata Nurina.

"Di international, gas air mata dilarang di ruangan tertutup. Dampaknya mengerikan. Ini poin penting. Ada penggunaan kekuatan berlebihan, ini fungsi kita minta akuntablitas," ujarnya. 

Baca juga: The Jakmania Karawang Siap Sambut Doa Bersama dengan Viking Persib Club

Soal TGIPF Harus Independen

Lantas, Amnesty International juga menyoroti soal Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) dan independensi, serta sikap Kompolnas yang dinilai gegabah imbas Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat yang dicopot pasca peristiwa Tragedi Kanjuruhan.  

"Kedua, soal TGIPF adalah soal indepensi. Mengapa? Kita coba lihat Kompolnas kemarin (bicara soal tak ada instruksi Polres Malang-red). Sangat di awal Kompolnas bicara gitu. Disayangkan, padahal TGIPF aja baru penyelidikan," imbuhnya. 

Meski begitu, lanjut Nurina Amnesty International ingin Tim investigasi bikinan pemerintah itu bisa kerja dengan serius, khususnya terkait penggunaan kekuatan berlebihan dari polisi. 

"Kita lihat pengalaman yang ada, TGIPF atau rekomendasi dihasilkan memang kerap tidak dipatuhi menyeluruh kalau merujuk pengalaman jika terkait penggunaan kekuatan berlebihan (polisi)," ungkapnya. 

Amnesty International juga menyatakan, soal penggunaan kekuatan berlebihan ini harus diungkap dan ini bukan soal persoalan menjelekkan negara.

Baca juga: Mengapa Pintu Stadion Kanjuruhan Dikunci padahal Laga Arema vs Persebaya Akan Selesai?Ini Kata Saksi

Artikel ini sudah tayang di Kompas.TV.

Sumber: Kompas
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved