Ngerinya Cerita Buaya Jelmaan Manusia Jadi Bapaknya Buaya Sungai Cikaso Sukabumi, Buaya Kini Muncul

Buaya pertama kali muncul pasca banjir bandang tahun 2016 lalu, hingga kini buaya itu sering menampakkan diri di tepi dan aliran sungai Cikaso.

Istimewa/ Dok Iji Pahrudin
Penampakan buaya yang sering muncul di tepi dan aliran sungai Cikaso 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Kabupaten Sukabumi M Rizal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Setiap hari warga yang menyeberangi Sungai Cikaso di Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat untuk pergi ke Kedusunan Kadudahung, Kampung Ciloma, Desa Cibitung melihat kemunculan buaya tengah berjemur dan berenang di sungai.

Kepala Desa Cibitung, Iji Pahrudin mengatakan, buaya pertama kali muncul pasca banjir bandang tahun 2016 lalu, hingga kini buaya itu sering menampakkan diri di tepi dan aliran Sungai Cikaso.

"Awal kemunculan buaya itu diketahui masyarakat itu tahun 2016 lalu pasca banjir, waktu itu yang muncul dua ekor, kenapa kita bisa memastikan lebih dari satu ekor karena warnanya ada yang beda, ada yang agak hitam dan ada yang ke kuning kuningan," ujarnya via telepon, Kamis (29/9/2022).

Baca juga: Antar Bantuan ke Korban Banjir di Sukabumi, Relawan Kaget Lihat Penampakan Buaya Sungai Cikaso

Terdapat cerita mengerikan terkait buaya yang sering menampakkan diri di Sungai Cikaso.

Mitos berkembang di masyarakat bahwa terdapat buaya jelmaan manusia yang menjadi bapaknya buaya-buaya yang sering muncul.

"Memang dahulu kala menurut sejarah orang tua yang menyampaikan ke kita, yang masih anak-anak itu banyak di Sungai Cikaso itu buaya jelmaan, yang diberi nama wa Mali, sama Asep yang dahulu kala, cuman memang beberapa tahun kebelakang ini tidak sempet muncul dikarenakan mungkin yang namanya Mali tidak muncul sesudah bencana 2016," kata Iji Pahrudin

Iji menjelaskan, cerita itu sampai sekarang masih berkembang di masyarakat. Iji mengungkap, sebelum meninggal pria bernama Mali dan Asep itu pernah memberikan wasiat, jika keduanya meninggal dan hilang di sungai, warga cukup memukul air tiga kali agar mereka ditemukan, jika hilang di daratan cukup menginjak bumi sekeras mungkin sebanyak tiga kali.

"Memang dahulu sempat saya mendengar dan dapat informasi masyarakat yang waktu buaya wa Mali itu sama Asep, ada salah satu tokoh yang sekarang sudah meninggal sering kali menyampaikan kepada masyarakat, berbicaranya kalau seandainya saya meninggal insya allah kalau di air kalau pengen ketemu dikemudian hari dipanggil tinggal tepuk air sebanyak tiga kali, sudah ada mitos seperti itu," terangnya.

"Dan kalau meninggal di darat tinggal menginjak tanah oleh kaki sebanyak tiga kali sambil memanggil namanya tiga kali, baru bisa ketemu itu katanya mitosnya, yang namanya asep itu merupakan anaknya Mali," ucap Iji.

Menurutnya, mitos yang berkembang di masyarakat buaya jelmaan manusia itu kini diberi nama buaya Roya dan sering menampakkan diri kepada warga yang tengah menyeberangi Sungai Cikaso dan nelayan yang mencari ikan.

Baca juga: Antar Bantuan ke Korban Banjir di Sukabumi, Relawan Kaget Lihat Penampakan Buaya Sungai Cikaso

"Itu mitos yang namanya Mali itu jadi jelmaan buaya Roya, nah secara keilmuan turun ke yang namanya Asep itu begitu mitosnya," kata iji.

Saat ini, buaya Roya itu disebut warga sebagai bapaknya buaya yang sering muncul, karena Roya memiliki bobot lebih besar dari buaya lain yang ada di Sungai Cikaso.

"Kalau julukan terhadap buaya itu mungkin dari masyarakat ada nama Euis dan juga Nyai, ada Roya, itu yang tiga dikasih nama oleh masyarakat. Euis itu kira-kira panjang 4 meter, beratnya 1,5 kwintal, untuk namanya Nyai dibawah kepanjangan dari Euis, yang lebih besar itu yang bentuk fisiknya hitam dinamai Roya, katanya itu merupakan bapaknya," ucap Iji.*

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved