Adikarya parlemen

Iwan Suryawan: VCT Kunci Penting Pencegahan Penularan HIV/AIDS

Anggo DPRD Provinsi Jawa Barat Iwan Suryawan menyebutkan kalau VCT menjadi kunci penting pencegahan penularan HIV/AIDS

istimewa
Anggota DPRD Jabar, H. Iwan Suryawan, S.Sos 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Peningkatan kesadaran kelompok orang yang berisiko tertular HIV/ AIDS untuk menjalani tes HIV atau VCT (voluntary counselling and testing) dinilai sebagai upaya yang utama dalam pencegahan penyebaran HIV/ AIDS lebih lanjut.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Iwan Suryawan, S.Sos., mengatakan di sisi lain, pemerintah dan berbagai pihak yang terkait dengan upaya pencegahan penyebaran HIV/ AIDS pun harus terus menyosialisasikan berbagai upaya pencegahan, menggencarkan VCT, termasuk terapi ARV (antiretroviral).

"Pasti setelah banyak yang sadar memeriksakan diri untuk tes, jumlah kasusnya bisa saja meledak pada saat itu. Tapi kita akan mengantisipasi untuk tahap berikutnya, atau yang dinyatakan positif ini semua harus menjalani terapi ARV dan tidak melakukan hal beresiko lagi, maka penularan akan tertahan, karena tidak akan ada lagi penularan," kata Iwan di Bandung, Jumat (23/9).

Penularan HIV, katanya, masih saja terjadi karena orang-orang yang melakukan aktivitas berisiko, seperti seks bebas atau bergonta-ganti pasangan, tidak memeriksakan dirinya sendiri.

Padahal, orang-orang berisiko ini bisa saja sudah terinfeksi HIV namun tidak menyadarinya dan tetap melakukan aktivitas berisiko sehingga bisa menularkan pada orang lain.

"Misalnya seorang suami melakukan hubungan dengan perempuan lain, kemudian tertular HIV tapi dia tidak sadar. Sang suami lalu berhubungan dengan istrinya dan bisa saja istrinya tertular. Kemudian kalau istrinya hamil, anaknya ada kemungkinan positif HIV juga," katanya.

Begitu pun dengan kelompok orang yang bergonta-ganti pasangan dengan mudahnya tanpa alat pengaman atau alat kontrasepsi. Hal ini dapat mempercepat penularan HIV di masyarakat.

"Kita lihat malam minggu saja, kalau anak-anak remaja nongkrong, sudah sebebas itu antara perempuan dan laki-laki. Kita tidak tahu setelah mereka nongkrong, apa yang terjadi. Kita pun tahu mahasiswa sudah sebebas apa di kosannya," katanya.

Karenanya di tengah situasi ini, semua orang berisiko harus memeriksakan dirinya dan menghentikan hal-hal berisiko HIV.

Pemerintah pun harus lebih giat bersama relawan atau aktivis mendorong maayarakat berisiko melakukan VCT.

"Periksa itu gratis, agar kita tahu kita positif atau tidak. Kalau pun positif, akan dibantu untuk tetap bisa sehat. Supaya jangan sampai masuk fase AIDS. Pemeriksaan dan ARV ini gratis padahal, kalau beli sendiri mahal," katanya.

"Kebanyakan terjadinya ini karena orang ini tidak sadar bahwa ia positif tapi masih menularkan ke mana-mana. HIV ini seperti gunung es, jadi yang terlihat mungkin tidak seberapa. Kalaupun tiba-tiba meningkat tajam, itu karena kurang melakukan antisipasi tadi," kata Iwan yang sudah aktif di dunia penanganan HIV/AIDS sejak tahun 2005 ini.

Di sisi lain, dua tahun pandemi membuat orang yang berisiko tertular HIV kesulitan melakukan tes di pusat pelayanan kesehatan. Karenanya, angka penderita HIV bisa saja melonjak pada tahun ini atau tahun depan, setelah pelonggaran PPKM.

"Penanganan dan pemetaan HIV baru normal lagi tahun ini dan diperkirakan memang angka akan naik semua. Kemudian mulai ada kesadaran lagi untuk mau memeriksakan diri karena mungkin selama ini lebih banyak di rumah," kata anggota dewan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera ini. 

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved