Kejamnya Rentenir di Garut

CURHATAN Korban Lain Rentenir Garut yang Robohkan Rumah Undang: Hilang Sawah karena Bunga Fantastis

Rupanya, tak hanya Undang yang lega begitu A ditetapkan sebagai tersangka, korban A yang lain pun ikut bersyukur.

Tribun Jabar/Sidqi Al Ghifari
Rumah Undang di Kampung Haurseah, Desa Cipicung, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, dirobohkan rentenir karena tak bisa membayar utang Rp 1,3 juta. Bangunan yang rata dengan tanah dipasangi garis polisi. 

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - A (33), rentenir Garut yang merobohkan rumah Undang (47) karena telat membayar utang kini telah jadi tersangka.

Tak hanya A, tujuh orang lainnya pun ikut berstatus sebagai tersangka.

Semuanya adalah orang-orang yang disebut turut serta merobohkan rumah Undang di Kampung Haurseah, Desa Cipicung, Kabupaten Garut.

Rupanya, tak hanya Undang yang lega begitu A ditetapkan sebagai tersangka, korban A yang lain pun ikut bersyukur.

Ditetapkannya A sebagai tersangka disyukuri oleh PP (30) yang juga merupakan korban.

"Pas saya tau berita soal A jadi tersangka, saya menangis, bersyukur. Saya juga pernah menjadi korbannya," ujar PP kepada Tribunjabar.id, Rabu (21/9/2022).

PP menyebut dirinya terjebak hutang piutang yang tak kunjung selesai dengan A.

Bahkan ia harus kehilangan sawahnya demi menutupi hutang dicampur bunga yang fantastis.

Baca juga: Wakil Bupati Garut Pantau Pembangunan Kembali Rumah yang Dirobohkan Rentenir, Minta Ini ke Warga

"Gara-gara hutang sama A, saya sampai kehilangan sebidang tanah, sawah saya jual, nilainya puluhan juta," ucapnya.

A menjadi tersangka bersama 7 orang lainnya karena melanggar Pasal 170 KUHP JO Pasal 55 KUHP JO Pasal 56 KUHP dan Atau Pasal 406 KUHP, atas pengrusakan secara bersama-sama.

7 orang tersebut diperintah oleh tersangka A untuk melakukan pembongkaran rumah milik Undang.

Sementara satu tersangka lain yang berinisial E yang merupakan saudara kandung Undang, ditetapkan sebagai tersangka lantaran menjual tanah milik Undang tanpa sepengetahuannya.

E dijerat dengan Pasal 385 KUHP yaitu penggelapan tanah.

"Ancaman pidana untuk Pasal 170 paling maksimal adalah 5 tahun penjara, sementara Pasal 385 kepada saudara E itu ancaman hukumannya 4 tahun penjara," ujar Kapolres Garut, AKBP Wirdhanto Hadicaksono saat ekpose kasus tersebut, Selasa (20/9/2022).

Baca juga: Korban Lain Rentenir yang Robohkan Rumah Undang Mulai Buka Suara, Ada yang Sampai Menangis Bersyukur

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved