India Larang Ekspor Beras, Dikhawatirkan Berimbas Karena 2,1 Persen Impor Beras Indonesia dari India

Indonesia berpotensi terdampak kebijakan tersebut mengingat sekitar 2,1 persen pasokannya berasal dari India. 

Editor: Ravianto
PT KLIRING BERJANGKA INDONESIA
Ilustrasi gudang beras. Pemerintah India melarang ekspor beras mulai 9 September 2022. Beras Indonesia yang diimpor dari India berjumlah 2,1 persen dari total impor sehingga dikhawatirkan berdampak. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Pemerintah India melarang ekspor beras mulai 9 September 2022.

Selain melarang ekspor beras, pemerintah India juga mengenakan pajak tinggi, hingga 20 persen untuk beberapa jenis beras.

India merupakan eksportir terbesar beras secara global.

Kontribusi India bahkan sampai ke 40 persen beras global yang diekspor ke 150 negara.

Tahun 2021, ekspor beras India mencapai 21,5 juta ton atau 53 persen beras global. 

Jumlah ekspor India ini jauh lebih banyak dari 4 negara eksportir biji-bijian terbesar di dunia yakni Thailand, Vietnam, Pakistan dan AS.

"India adalah produsen utama beras global yang berkontribusi sebesar 40 persen beras global ke level dari 150 negara," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam laporan riset hariannya, Rabu (21/9/2022). 

Tren proteksionisme tersebut memang untuk mengendalikan harga domestik yang sedang tinggi imbas pasokannya mengalami penurunan. 

Terpantau tren produksi beras India telah mengalami penurunan hingga 5,6 persen secara tahunan dengan adanya curah hujan musim monsum di bawah rata-ratayang mempengaruhi aktivitas panen. 

Nico Demus mengatakan, kebijakan Pemerintah India ini menunjukkan tren proteksionisme berlanjut untuk komoditas unggulan beras.

Dalam laporan yang dikeluarkan India, bahwa India berpotensi memperoleh penurunan produksi beras di 2022 menjadi 125 juta ton dibanding estimasi yang mencapai 129 juta ton. 

Sementara, Indonesia sendiri masuk dalam jajaran negara pengimpor beras di mana pada 2021 total yang diimpor sebesar 407,74 ribu ton. 

"Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 356,28 ribu ton. Dari jumlah tersebut, jumlah yang diimpor dari India sebesar 215,38 ribu ton atau dengan porsi 53 persen, dari Thailand sebesar 69,36 ribu ton atau 17 persen dari porsi ekspor, dari Vietnam sebesar 65,69 ribu ton dengan porsi 16 persen, dan dari Pakistan sebesar 52,47 ribu ton beras dengan porsi 13 persen," kata Nico. 

Meski secara volume impor beras mengalami kenaikan, namun nilainya mengalami penurunan sebesar 195,40 miliar dolar AS menjadi 183,80 miliar dolar AS pada 2021. 

"Hal tersebut memberikan ekspektasi bahwa adanya penurunan volume impor pada 2022. Sesuatu yang juga kami lihat dapat memicu inflasi pangan," tuturnya. 

Nomura turut melaporkan, Indonesia berpotensi terdampak kebijakan tersebut mengingat sekitar 2,1 persen pasokannya berasal dari India

Nico menambahkan, dengan aksi proteksionisme tersebut, produsen utama setelah India berpotensi diuntungkan dengan adanya pengalihan demand. 

"Apabila inflasi pangan meningkat yang mana kontribusinya sebesar 15 persen terhadap CPI, maka situasi tersebut turut memberikan tekanan terhadap BI dalam menentukan keputusan kebijakan moneternya," pungkas Nico.

Sumber: Tribunnews
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved