Di Balik Hari Jadi Kabupaten Sukabumi, Korban Pergerakan Tanah Kebingunan Tak Dapat Tempat Relokasi

Sudah sekitar setahun, puluhan korban pergerakan tanah di Kampung Nyalindung, Pasirsuren, Palabuhanratu, Sukabumi belum mendapatkan kepastian relokasi

Penulis: M RIZAL JALALUDIN | Editor: Darajat Arianto
TRIBUNJABAR.ID/M RIZAL JALALUDIN
Sudah sekitar setahun, puluhan korban pergerakan tanah di Kampung Nyalindung, Desa Pasirsuren, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, kebingunan melapor kemana lagi karena belum mendapatkan kepastian relokasi. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Kabupaten Sukabumi M Rizal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Sudah sekitar satu tahun, puluhan korban pergerakan tanah di Nyalindung, Desa Pasirsuren, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat belum mendapatkan kepastian relokasi.

Catatan Tribunjabar.id, peristiwa itu pertama kali terjadi sekitar pukul 20.00 WIB, Sabtu (6/11/2021).

Hingga kini, korban pergerakan tanah ada yang ngontrak, ada pula yang masih tetap bertahan di rumah yang sudah rusak, retak-retak hingga nyaris rubuh.

Warga pun menyinggung dengan kemeriahan hari jadi ke-152 Kabupaten Sukabumi yang puncaknya pada 10 September 2022.

Warga menyebut, hari jadi digelar meriah, tapi korban pergerakan tanah seakan diterlantarkan. Bahkan, warga sampai curhat di media sosial facebook.

"Iya kami kemarin senang sekali lihat hari ulang tahun Kabupaten Sukabumi begitu meriah, bahkan bapak Bupati, para pejabat datang, saya senang sekali sebagai warga Kabupaten Sukabumi. Tapi, kami miris, kami sedih, kami korban bencana, merayakan hari ulang tahun Sukabumi saja begitu meriahnya," kata seorang korban, Enung Nuraeni (43) ditemui di lokasi, Selasa (20/9/2022).

"Bisa kah bapak Bupati menyempatkan ketemu dengan kami?," ucap Enung.

Baca juga: Rumah Ambruk Tiba-tiba Akibat Pergerakan Tanah di Sukabumi, Pemilik Rumah pun Mengungsi

Enung pun mengaku mewakili suara emak-emak korban pergerakan tanah di Nyalindung yang ingin diperhatikan oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Ia mengatakan, warga sudah bosan di bikin PHP alias diberi harapan palsu terkait rencana relokasi.

"Saya ingin menyampaikan kepada pemerintah atau bapak-bapak yang terhormat di atas sana, kami di sini sudah mau 1 tahun pergerakan tanah sampai hari ini masih abu-abu, yang kami inginkan tidak PHP. Kapan kami akan direlokasi?, jangan cuma di survey di foto, sempat ada kumpulan kita akan relokasi di mana, sampai saat ini kumpul lalu bubar, karena kami dampaknya lihat di sini sudah hancur, tidak dapat dihuni sama sekali," keluh Enung.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved