PT Kahatex Kurangi Jumlah Karyawan Kontrak, Order dari Eropa Menurun Gara-gara Syarat Green Energy

Jumlah itu disusutkan setiap bulannya mulai dari Agustus 2022 hingga selesai masa kontrak semua karyawan. 

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Ravianto
kiki andriana/tribun jabar
Manajer Umum Bidang Humas dan Lingkungan PT Kahatex, Luddy Sutedja saat diwawancara TribunJabar.id, di PT Kahatex, Sumedang, Minggu (18/9/2022). (kiki andriana/tribun jabar) 

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - PT Kahatex yang pabriknya berdiri di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat mengurangi jumlah karyawan kontrak

Penyusutan jumlah karyawan ini dilakukan secara berangsur setiap bulan.
 
Alasanya, Covid-19 yang berlangsung 3 tahun, kecamuk perang Ukraina, dan permintaan operasional pabrik menggunakan green energy dari pembeli membuat order dari Eropa sepi. 

Perusahaan tersebut harus melakukan perubahan jika ingin menjual produknya lagi ke Eropa.

Dan untuk berubah, misalnya mengganti batu bara dengan energi terbarukan perlu biaya tinggi. 

Di antara yang bisa dilakukan untuk menekan biaya produksi agar prasyarat dari pembeli di Eropa bisa terlaksana adalah dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawan. 

PT Kahatex memiliki 3.000 orang karyawan kontrak. Jumlah itu disusutkan setiap bulannya mulai dari Agustus 2022 hingga selesai masa kontrak semua karyawan. 

Manajer Umum Bidang Humas dan Lingkungan PT Kahatex, Luddy Sutedja mengatakan karyawan tinngal diputus hubungan kerja semuanya. Namun setiap bulan, mereka yang habis masa kontrak akan disaring dengan sejumlah kriteria penilaian. 

"Dilihat kehadiran kerjanya bagaimana, kemudian hubungan dengan atasan bagaimana, yang betul-betul tidak memenuhi penilaian dengan berat hati kami putus hubungan kerja," kata Luddy kepada TribunJabar.id, Minggu (18/9/2022). 

Menurut catatan Luddy, karyawan PT Jahatex yang habis masa kontrak pada bulan Agustus tahun 2022 ada sebanyak 632 orang.

Namun, dari jumlah itu, yang di-PHK hanya 60 orang. 

Pada bulan September ini, yang habis kontrak sebanyak 786 orang. Dari jumlah itu yang tak memenuhi penilaian untuk dipertahankan sebanyak 90 orang.

Nanti pada Oktober 2022, ada sebanyak 210 orang yang habis masa kontrak dan hanya 24 yang akan di-PHK. 

"Haknya kami berikan 2 kali UMK. Kemudian muncul gejolak dari pemerintah desa di sekitar perusahaan. Kami jamin mereka tercatat, dan jika kondisi perusahaan sudah pulih, mereka akan kami bantu lagi untuk bekerja kembali," kata Luddy.(Laporan Kontributor TribunJabar.id Sumedang, Kiki Andriana)

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved