Kamis, 11 Juni 2026

Unjuk Rasa BBM, Polisi Indramayu Urut Mahasiswa yang Terkilir, Bupati Kuningan Feeling BBM Turun

Aksi menolak kenaikan BBM digelar di sejumlah daerah di Jawa Barat kemarin.

Tayang:
Editor: taufik ismail
Tribun Cirebon/ Handhika Rahman
Polisi saat mengurut kaki mahasiswa yang terkilir saat aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Indramayu, Jumat (9/9/2022). 

TRIBUNJABAR.ID, INDRAMAYU - Pemandangan yang menyejukan terlihat di tengah panasnya unjuk rasa penolakan kenaikan harga BBM di depan Gedung DPRD Indramayu, Jumat (9/9/2022).

Seorang polisi tertangkap kamera saat tengah membantu mengurut kaki mahasiswa yang cedera.

Kaki mahasiswa itu terkilir karena terjatuh saat berusaha melewati barier yang sengaja dipasang petugas untuk mencegah pengunjuk rasa masuk ke gedung Dewan.

Belakangan diketahui, polisi baik itu ternyata Kapolsek Patrol, Kompol Mashudi.

Tak hanya mengevakuasinya ke lokasi yang lebih aman, Kapolsek rupanya juga langsung memberikan pertolongan pertama.

"Namanya Adis dari Kampus Putih Indramayu," ujar Kapolsek sambil tersenyum.

Para petugas Polri, ujarnya, memberikan pelayan dan perlindungan, termasuk pada para pengunjuk rasa.

"Dia terkilir setelah terjatuh karena terdorong rekannya saat melangkahi barier di depan DPRD," ujarnya.

Unjuk rasa di depan gedung DPRD Indramayu, kemarin, diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indramayu.

Mereka terus merangsek ke gerbang DPRD Indramayu, hingga akhirnya berhasil masuk ke halaman.

Alih-alih memukul mundur para pengunjuk rasa yang masuk ke halaman gedung Dewan, polisi justru dengan sabar meminta mahasiswa untuk tenang. Polisi bahkan juga membawakan mahasiswa air minum dan roti untuk dimakan bersama-sama di lokasi unjuk rasa.

Ratusan mahasiswa yang awalnya berusaha terus merangsek ke dalam Gedung Dewan pun akhirnya tenang dan melanjutkan orasinya. Mereka membubarkan diri menjelang Magrib, dengan tertib dan tanpa diminta.

"Kami hanya ingin harga BBM diturunkan," ujar Dewi, mahasiswi STKIP NU Indramayu.

Aksi mahasiswa di depan gedung DPRD Sumedang, Jumat (9/9/2022) sore menunjukkan tensi yang tinggi. Mereka membuat replika kuburan lengkap dengan kayu nisan dan membakar ban di tengah aksi menolak kenaikan harga BBM.
Aksi mahasiswa di depan gedung DPRD Sumedang, Jumat (9/9/2022) sore menunjukkan tensi yang tinggi. Mereka membuat replika kuburan lengkap dengan kayu nisan dan membakar ban di tengah aksi menolak kenaikan harga BBM. (TRIBUNJABAR.ID/KIKI ANDRIANA)

Seperti hari-hari sebelumnya, unjuk rasa penolakan kenaikan harga BBM, kemarin, juga berlangsung di hampir semua wilayah di Jawa Barat.

Di Sumedang, ratusan mahasiswa yang demo di depan gedung DPRD mengajukan sembilan tuntutan.

Bukan hanya soal harga BBM, tapi juga pelanggaran HAM, kasus Tampomas, hingga desakan agar proyek-proyek nasional yang tidak berdampak langsung pada masyarakat untuk segera dihentikan.

Meski tak berujung ricuh, unjuk rasa diwarnai pembakaran ban bekas. Asapnya yang pekat membumbung tinggi dan bau.

Pembakaran ban bekas juga dilakukan mahasiswa saat berunjuk rasa di depan gedung DPRD Kuningan, kemarin. Seperti di Sumedang, mahasiswa juga menyuarakan penolakan mereka atas kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. 

Meski diwarnai pembakaran ban, unjuk rasa relatif tertib, terutama setelah Dandim 0615 / Kuningan Letkol Inf Bambang Kurniawan terjun langsung menemui para peserta aksi.

"Semua diam! Saya Dandim Kuningan bertanggungjawab dalam kegiatan ini. Saya harap semua duduk. Saya akan menghadirkan Bupati dan Ketua DPRD Kuningan dalam lima menit," kata Dandim, yang kemudian masuk ke Gedung DPRD.

Mendengar itu, para pengunjuk rasa pun menurut. Benar saja, tak lama berselang, Dandim kembali datang bersama Bupati dan Ketua DPRD Kuningan.

"Semua diam! Silakan duduk, silakan duduk!" ujar Dandim.

Usai menghadirkan Bupati Acep Purnama dan Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy, para pendemo dari masing - masing organisasi ekstra kampus seperti dari HMI, GMNI, PMII, IMM dan KAMMI bergiliran menyamaikan aspirasinya. Intinya sama, menolak kenaikan harga BBM.

Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy mengatakan, sejak awal DPRD Kuningan memang menolak kenaikan harga BBM

"Penolakan bahkan juga sudah saya sampaikan dalam sambutan saya saat Sidang Paripurna Hari Jadi Kuningan pada tanggal 1 September kemarin. Kami menolak," ujarnya.

Berbeda dengan Nuzul, Bupati Kuningan H Acep Purnama minta semua sabar dalam menghadapi permalasahan ini. 

"Feeling kami, harga BBM itu akan turun lagi. Jadi mohon kepada para mahasiswa, ojol, dan masyarakat agar bersabar," kata Bupati.

Penolakan kenaikan harga BBM, juga kembali dilakukan ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tunggi di Bandung.

Kemarin, mahasiswa long march dari Pusadai, ke kantor DPRD Jawa Barat.  Sesampainya di depan kantor DPRD, masa aksi langsung membuat lingkaran besar menutup jalan. Kendaraan yang akan melintas ke depan kantor DPRD pun terpaksa memutar arah. 

Sebelum melakukan orasi, para mahasiswa menyempatkan menggelar salat Asar berjamaah di tengah jalan.  Seperti sebelumnya, orasi kali ini juga menyuarakan tuntutan agar pemerintah segera menurunkan harga BBM. 

Di Kota Sukabumi, penolakan kenaikan harga BBM dilakukan warga, mahasiswa, dan anggota sejumlah ormas. Aksi dilakukan di depan di Kantor Pertamina, Jalan Siliwangi. Mereka terhimpun dalam Aliansi Masyarakat Sukabumi Melawan, antara lain mahasiswa PB HIMASI, Persaudaraan Muslim Sukabumi Pajampangan, Presdium Alumni 212, Paguron Sapujagat, komunitas motor HABC dan kunitas driver online.

Ketua PB HIMASI Danial Fadhilah, mengatakan aksi ini adalah aksi gabungan. "Intinya semua mahasiswa dan masyarakat yang hari ini tentunya menolak tegas terhadap kenaikan BBM," tegas Danial. (handhika rahman/kiki andriana/ahmad ripai/nazmi abdurahman/dian herdiansyah)

Baca juga: Diguyur Hujan, Mahasiswa Tetap Lanjutkan Demo Tolak Harga BBM Naik di DPRD Kabupaten Sukabumi

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved