Empon Warga Sindanglaya Dilaporkan ke Polisi, Diduga Menipu Hingga Ratusan Juta, Modusnya Jadi ART

Iwan merugi ratusan juta ketika perempuan itu mengadakan order dari hajatan pernikahan fiktif. 

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Ravianto
Dok Iwan Kustiawan
TDS alias Empon alias Mamah Berly, terduga kasus penipuan dengan modus order hajatan pernikahan fiktif. 

Laporan Kontributor TribunJabar.id Sumedang, Kiki Andriana

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Iwan Kustiawan, pemilik Lolypop Management, sebuah wedding organizer (WO) di Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung mengaku ditipu oleh seorang perempuan yang berpura-pura menjadi Asisten Rumah Tangga (ART) hingga ratusan juta rupiah. 

Belakang diketahui "ART" tersebut bermasalah dengan hukum dan laporan kriminal tentangnya telah ada di berbagai Kepolisian Sektor (Polsek) di Bandung. 

"Saya sendiri melaporkannya ke Polsek Cileunyi, Kabupaten Bandung. Ketika saya melapor, nama perempuan itu telah ada pada laporan lain atas kasus penipuan dengan modus lain," kata Iwan kepada TribunJabar.id, saat dihubungi dari Sumedang, Senin (5/9/2022). 

Iwan melaporkan perempuan kelahiran 1985 berinisial TDS alias Empon alias Mamah Berly, warga Sindanglaya RT04/11, Kelurahan Pasir Impun, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung. 

Iwan merugi ratusan juta ketika perempuan itu mengadakan order dari hajatan pernikahan fiktif. 

"Dia memelas meminta bekerja pada kami sebagai asisten rumah tangga. Dua bulan bekerja dengan kerja yang sangat tidak maksimal dan banyak teguran, dia mengeluh meminta kerja sampingan," kata Iwan. 

Kerja sampingan yang dimaksud hasilnya untuk membayar rumah kontrakan dan membeli beras. Oleh Iwan, karena TDS rumahnya hanya berselang 2 RW dari rumah Iwan di 
Jalan Cijambe Atas, Kampung Sekemandung RT01/14 Desa Girimekar, Kecamatan  Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Iwan mempercayainya. 

"Saya juga beri syarat harus ada KTP orang yang mau hajatan, dan lain sebagainya. Dia bekerja mencari bahan masakan dan lainnya secara mandiri. Kami pun memberinya Rp 20 juta, kemudian Rp 30 juta, dan seterusnya hingga lebih dari Rp 100 juta," kata Iwan. 

Iwan percaya karena TDS membawa serta KTP orang yang akan order hajatan. Namun, ketika beberapa pernikahan melewati waktu penyelenggaraan dan saatnya berbagi hasil dari pekerjaan itu, TDS kabur. 

"Saya telusuri ke orang-orang yang KTP-nya saya pegang, ternyata satupun mereka tak ada yang menggelar hajatan. Sebaliknya, mereka memberikan KTP kepada TDS karena diiming-imingi sembako," kata Iwan. 

Sepengetahuan Iwan, selain di Polsek Cileunyi, nama TDS juga dilaporkan pada kasus penipuan lain di Polsek Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved