Ini Suara Hati Mahasiswa Setelah Pemerintah Menaikkan Harga BBM, Dinilai Bukan Langkah Tepat

Sejumlah mahasiswa di Bandung mengeluhkan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax yang diumumkan oleh pemerintah.

Penulis: Deanza Falevi | Editor: Giri
Tribun Jabar/Nazmi Abdurrahman
Antrean pembeli Pertalite sebelum harga resmi dinaikkan di sebuah SPBU di Kota Bandung, Sabtu (3/9/2022). Kenaikan harga BBM mendapat penolakan dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa. 

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Deanza Falevi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sejumlah mahasiswa di Bandung mengeluhkan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax yang diumumkan oleh pemerintah pada Sabtu (3/9/2022).

Harga Pertalite yang semula Rp 7.650 per liter, kini naik menjadi Rp 10 ribu per liter.

Sedangkan untuk harga Pertamax naik dari Rp 12.500 per liter jadi Rp 14.500 per liter.

Lazuardi Rivan Hafidz (21), mahasiswa asal STEMBI Bandung menilai, keputusan pemerintah menaikkan harga BBM saat ini kuranglah tepat.

Menurutnya, saat ini masyarakat Indonesia sedang berusaha untuk bangkit dari masalah ekonomi karena pandemi Covid-19.

"Keputusan presiden untuk menaiki BBM belum tepat di masa sekarang yang di mana masyarakat Indonesia sedang memulihkan ekonominya di masa setelah pandemi," ujar Rivan kepada Tribunjabar.id, Sabtu (8/3/2022).

Baca juga: NAIK Kemarin, Ini Daftar Harga BBM Baru di Seluruh Indonesia

Dia mengatakan, pemerintah yang berencana untuk memberikan solusi dengan bantuan langsung tunai (BLT) BBM sebesar Rp 600 ribu kuranglah tepat.

"Pemerintah belum memberikan solusi yang kurang efektif terkait kenaikan BBM, salah satunya adanya subsidi yang dari pemerintah hanya Rp 600 ribu per orang bagi tenaga kerja yang gajinya dibawah Rp 3 juta," ucapnya.

Sedangkan, menurutnya, kenaikan harga BBM ini tidak tahu hingga kapan.

"Sehingga masyarakat yang tidak terdaftar sebagai penerima subsidi sangat keberatan, dan perusahaan tidak memberikan solusi untuk kenaikan gaji para karyawannya," ucap Rivan.

Hal senada juga disampaikan oleh Deni Wintara (22), ketua BEM STEMBI Bandung.

Menurutnya, kenaikan BBM ini bisa berdampak keseluruh bagian termasuk harga kebutuhan pangan di pasar.

Baca juga: Tak Ada Antrean Panjang di SPBU Kabupaten Sukabumi, BBM Cukup untuk Penuhi

"Hari ini BBM naik secara mendadak, otomatis dampaknya harga kebutuhan pangan di pasar juga ikut naik. Terus akan berdampak juga bagi pelajar yang pergi ke sekolah harus menggunakan transportasi umum yang kemungkinan akan ikut naik tarifnya," ucap Deni.

Dea Alvi Soraya (27) mahasiswa Universitad Padjajaran (Unpad) mengaku sedih dengan naiknya harga BBM saat ini.

"Sedih, karena ke kampus kan pakai transportasi umum, jadi enggak tahu tarifnya bakal naik apa enggak," ujar Dea. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved