Selasa, 14 April 2026

Pengusaha Kue di KBB Menjerit, Harga Telur Naik, Omzet Tipis Tidak Bisa Menaikkan Harga

Pelaku UMKM yang bergerak di bidang industri makanan kue di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini mendapat keuntungan minim ketika harga telur naik

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Januar Pribadi Hamel
Tribun Jabar/Deanza Falevi
Pelaku UMKM yang bergerak di bidang industri makanan kue di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini mendapat keuntungan minim ketika harga telur naik ignifikan. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Pelaku UMKM yang bergerak di bidang industri makanan kue di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini mendapat keuntungan minim ketika harga telur naik ignifikan.

Selain itu, dengan naiknya harga telur tersebut mereka juga merasa dilema karena tidak tega menaikkan harga ke pelanggan, sedangkan di disisi lain harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli ketika harga telur naik.

Pengusaha  roti asal Padalarang, Dina Kusnawati (43) yang mengatakan merasa terdampak karena harga terlur naik, dalam satu kali membuat kue atau roti dia bisa menghabiskan 6-8 telor, sedangkan jika membeli satu kilogram rata-rata berisi 15-16 butir.

Baca juga: Dikunjungi Jokowi, Pedagang Telur di Pasar Cicaheum Berharap Harga Telur bisa Kembali Normal

"Jadi, untuk dua kali pembuatan bisa menghabiskan 1 kilogram telur. Jadi, dengan naiknya harga telur ini membuat pengeluaran (modal) menjadi dua kali lipat," ujarnya di Padalarang, Senin (29/8/2022).

Naiknya harga telur dalam sepekan terakhir, kata dia, memang membuat keuntungan yang didapat semakin menipis karena telur ini merupakan bahan baku utama dalam membuat adonan kue dan roti buatannya.

"Sudah seminggu harga telur naik, dulu biasa beli Rp 28 ribu per kilogram sekarang harganya Rp 32 ribu sampai Rp 35 ribu per kilogram," kata pemilik toko kue Nareen Cake & Bakery ini.

Meski harga telur naik, tetapi dia tidak berani untuk menaikan harga jual kue dan roti ke pelanggan tetapnya, karena sudah terbiasa dengan harga yang selama ini.

Apalagi kenaikan harga yang tiba-tiba bisa membuat pelanggannya bertanya, mengingat mereka pastinya tidak mau tahu meski harga telur saat ini sedang naik.

"Saya biasa jual kue dan roti premium, misalnya bolu ulang tahun harganya Rp 200 ribu sampai Rp 280 ribu. Kalau untuk roti satuan dijual Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu. Jadi meski harga telur naik, saya masih jual dengan harga lama ke pelanggan," ucap Dina.

Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), KBB, Asep M Azhar mengatakan, harga telur ayam di pasar tradisional saat ini memang sedang naik.

"Kenaikan sudah terjadi dalam sepekan terakhir, di mana harganya saat ini dikisaran Rp 32 ribu per kilogram, sementara telur ayam kampung Rp 50 ribu per kilogram," ujarnya.

Tingginya harga telur ayam tersebut karena pasokan dari peternak ke pedagang di pasar tradisional sangat minim, sehingga stoknya di pedagang pun tidak melimpah seperti biasanya.

"Naiknya harga telur ayam itu karena pasokan yang kurang, sementara permintaan tinggi," kata Asep Azhar.

Ia mengatakan, untuk di wilayah Bandung Barat, telur tersebut kebanyakan dipasok dari luar daerah. Namun, untuk saat ini pasokannya sangat minim.

"Untuk wilayah KBB telur dipasok dari wilayah Tasik dan Brebes," ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved