Kasus Aborsi di Mata Kesehatan Reproduksi, Ahli Sebut Pelaku Bisa Melakukan Perbuatan Serupa

Kasus aborsi dimata kesehatan reproduksi kata Ketua Pusat Kesehatan Reproduksi UGM, Prof. dr. Siswanto Agis Wilopo

Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: Mega Nugraha
Tribun Jabar / Sidqi
Ketua Pusat Kesehatan Reproduksi UGM, Prof. dr. Siswanto Agis Wilopo 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kasus aborsi melibatkan perempuan muda asal Cianjur dengan membuang janinnya itu di wilayah Ciwidey Bandung.

Terungkapnya kasus aborsi ini berawal saat seorang driver ojol di kawasan Ciwidey dimintai bantuan seorang perempuan muda untuk menguburkan janin.

Bukannya menguburkan janin seperti permintaan wanita muda itu, pengemudi ojol ini justru ke Polsek Ciwidey dengan membawa janin tersebut.

Peristiwa tersebut direspon oleh Ketua Pusat Kesehatan Reproduksi UGM, Prof. dr. Siswanto Agis Wilopo, ia menyebut perlu adanya kesadaran penuh dari masyarakat terutama bagi mereka yang aktif secara seksual. 

"Kita harus sadar melakukan hubungan badan sekalipun tanpa alat kontrasepsi bisa hamil, yang penting dia harus tahu supaya tidak hamil itu bagaimana," ujarnya saat diwawancarai Tribunjabar.id dalam kegiatan Konferensi Internasional Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (ICIFPRH) 2022 di Yogyakarta, Jumat (26/8/2022).

Baca juga: Bantu Pacar Aborsi, Bripda Randy Dihukum 2,5 Tahun Penjara

Ia menuturkan kehamilan yang tidak diinginkan bisa dicegah dengan memberikan pengetahuan dan pendidikan soal kesehatan reproduksi

Menurutnya, saat ini, banyak masyarakat perlu mengakses soal pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi, hal itu juga penting untuk menyukseskan program keluarga berencana. 

Terkait kasus di Ciwidey ia menyebut ada kemungkinan perempuan muda itu akan kembali melakukan aborsi di kemudian hari. 

"Makanya ada kasus repeated aborsi atau aborsi yang berulang-ulang, karena dia sudah memecahkan masalah di aborsi pertama, jadi melakukan lagi," ucapnya. 

Penggunaan kontrasepsi saat berhubungan sangat penting untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Atau menurutnya mayarakat pun bisa memasang alat KB IUD, bagi mereka yang belum memiliki anak. 

Ia menjelaskan jika dalam dua bulan atau tiga bulan IUD tersebut ingin dilepas, maka hal tersebut bisa dilakukan. 

"Tapi di Indonesia belum banyak diceritakan hal itu, tapi di program KB dulu dan petunjuk-petunjuk sudah kita bikin," ucapnya.(*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved