Kisah Pemuda Yatim Piatu di Pangandaran yang Miliki Grup Kesenian Kuda Lumping Kini Banyak Panggilan

Dari hobi, pemuda yatim piatu di Pangandaran menggeluti kesenian kuda lumping hingga jadi pimpinan rombongan. Hasil pentasnya ada yang disumbangkan

Penulis: Padna | Editor: Darajat Arianto
TRIBUNJABAR.ID/PADNA
Kholik (18) pimpinan rombongan kesenian kuda lumping memainkan gamelan Jawa di halaman rumahnya di Dusun Sindangsari, Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Kamis (25/8/2022). 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Berawal dari hobi, seorang pemuda yatim piatu di Pangandaran menggeluti kesenian kuda lumping hingga menjadi pimpinan rombongan. 

Hebatnya, dari hasil pentasnya, ia biasa menyisihkan untuk menyantuni anak yatim dan kegiatan sosial lainnya.

Pemuda yatim-piatu ini bernama Muhamad Kholik (18), warga di Dusun Sindangsari, Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.

Sejak kedua orang tua masih hidup dan masih sekolah, Kholik senang bermain kesenian kuda lumping.

Sampai kedua orang tuanya meninggal, di usianya yang masih muda Ia memiliki group atau rombongan sendiri.

Diketahui, kuda lumping atau yang biasa disebut jaran kepang ini merupakan tarian tradisional Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu.

Baca juga: Kisah Sukses Pemuda Asal Riau Kini Menjadi Musisi di Pangandaran, Digaji Pakai Dolar dari Aplikasi

Kholik mengaku, memiliki rombongan kesenian kuda lumping sendiri awalnya karena hobi dan sering melatih teman sebayanya.

"Karena, sering banyak melatih teman-teman, waktu itu, saat berusia 16 tahun saya kepikiran untuk membuat group seni kuda lumping kombinasi Sekar Pujangga. Dan alhamdulilah, sampai sekarang sudah berjalan 2 tahun," ujar Kholik kepada Tribunjabar.id di halaman rumah, Rabu (24/8/2022) malam.

Dahulu, semasa masih hidup, ibunya sempat melarang Ia untuk tidak menari kesenian kuda lumping.

"Ibu melarang saya untuk tidak menari kuda lumping, kecuali kalau memainkan musik gamelan atau jadi pimpinan rombongan itu boleh," katanya.

Dalam membuat satu rombongan atau group kesenian kuda lumping, Ia mengaku tidak mempunyai biaya.

"Saya enggak punya uang, tapi saya tahu caranya. Yang penting, sudah punya izin dan kita bisa kerja sama dengan teman-teman lainnya. Gamelan, kan, kita bisa sewa," ucap Kholik.

Setelah dua tahun memiliki rombongan kesenian kuda lumping, Ia bersyukur sudah cukup banyak orang yang mengetahuinya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved